Jakarta (ANTARA News) - Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Moh Jumhur Hidayat membantu dan mendukung penuh terkait kemudahan fasilitas, akses data, maupun kerja sama demi kelancaran pembuatan film kisah sukses TKI di Hong Kong berjudul "Minggu Pagi di Victoria Park".

Jumhur menyatakan dukungan itu saat menerima aktris pemeran utama film itu, Lola Amaria yang sekaligus bertindak selaku sutradara, di Kantor BNP2TKI, Jakarta, Kamis.

Bersama produser Dewi Umayah Rachman dari Pick (k) Lock Production, Lola mendatangi Jumhur membicarakan materi pembuatan filmnya.

"Mudah-mudahan film ini dapat menjadi renungan masyarakat luas bahwa hidup menjadi TKI adalah perjuangan memperbaiki kehidupan keluarga serta peluang sukses sangat terbuka sepanjang yang bersangkutan bekerja sungguh-sungguh, menjaga etiket, dan mau membekali diri dengan kemampuan yang diperlukan sebagai TKI," kata Jumhur.

Ia meminta produser film tidak menutup-nutupi fakta menyangkut kehidupan TKI perempuan, baik TKI sukses maupun yang bermasalah di negeri orang.

Menurut Lola, film "Minggu Pagi di Victoria Park" berkisah perjuangan seorang TKI mengangkat harkat kehidupan keluarga.

Sekitar 50 artis dilibatkan dalam penggarapan film.

Direncanakan film itu bisa ditonton masyarakat Indonesia pada April tahun depan.

"Film ini pada intinya menceritakan menjadi TKI perempuan tidaklah seburuk yang dibayangkan. Asal dilakukan dengan kesungguhan, kesantunan, dan kesadaran mencapai tujuan, TKI juga mempunyai peluang sukses memperbaiki kehidupan sebagaimana profesi lain," tutur Lola.

Judul film itu diilhami suasana keceriaan para TKI Perempuan di Hong Kong, yang selalu berkumpul di setiap hari Minggu pagi.

Saat berkumpul, TKI ternyata tidak saja bersenda-gurau, tetapi ada yang melakukan tradisi arisan, tukar-menukar makanan, bahkan membuat program peningkatan keterampilan maupun kajian keagamaan.

Saat ditanyakan, apakah dalam melakukan perannya Lola terjebak dalam perdagangan manusia yang sering menimpa TKI di luar negeri, ia mengatakan,"Semua pekerjaan itu ada risikonya, termasuk menjadi TKI, tetapi TKI perempuan kita di Hong Kong rata-rata bergembira dengan kesuksesan yang diperoleh". (*)

Pewarta: Luki Satrio
Editor: Bambang
Copyright © ANTARA 2009