Makassar (ANTARA News) - Harga gula pasir di sejumlah pasar tradisional di Makassar, Rabu, mencapai Rp9.500/kg atau naik Rp2.000/kg dibanding sebelum puasa Ramadhan tercatat Rp6.500 - Rp7.000/kg.

Dampaknya, konsumen dari kalangan ekonomi menengah ke bawah merasa resah dengan naiknya harga gula pasir tersebut yang merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat di daerah ini, Rabu.

Pantauan di pasar Terong, Pa`baeng-baeng, Toddopuli dan pasar tradisional Sambung Jawa, harga gula pasir bergeser naik serta pasokan dari pedagang gula terbatas.

Meski gula pasir mengalami kenaikan dari harga patokan pemerintah, namun konsumen yang umumnya ibu-ibu rumah tangga tetap membelinya karena komoditi ini merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat, terutama selama bulan suci Ramadhan hingga menjelang lebaran Idul Fitri 1430 H.

"Kami terpaksa membelinya meski pun hanya setengah kilogram karena tanpa gula, kopi atau teh yang disajikan saat buka puasa rasanya kurang enak," ujar Ny. Ita, yang membeli gula pasir di warung Marwah di pasar Toddopuli.

Hal senada juga dikemukakan pemilik warung tersebut yang merasa seolah-olah gula pasir di kota ini sudah tipis pasokannya sehingga dia mengikuti arus kenaikan harga setelah mengecek pada sejumlah pasar tradisional lainnya yang juga memasang tarif gula pasir Rp9.500/kg.

Ketua Asosiasi Pengusaha Gula dan Terigu Indonesia (Apegti) Sulsel, Natsir Mansyur yang dihubungi secara terpisah mengatakan, naiknya harga gula pasir kualitas bagus (putih) dimungkinkan karena meningkatnya kebutuhan masyarakat, adanya pembelian besar-besaran dari

pihak-pihak tertentu dan tidak efektifnya Bulog sebagai distributor utama melihat dampak dari kenaikan harga tersebut.

Seharusnya Bulog jeli melihat perkembangan pasar, terutama dalam bulan puasa ini masyarakat banyak memakai gula pasir supaya tidak ada meresahkan akibat merangkaknya harga gula tersebut, katanya seraya meminta kepada pemerintah untuk segera mengantisipasi hal ini supaya daya beli masyarakat tetap menjangkau.

"Yang kita takutkan jika pedagang yang membeli gula dengan jumlah banyak menimbun, kemudian pada saat tertentu menjualnya dengan harga yang lebih tinggi lagi," ujarnya.(*)

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2009