Indonesia akan terima 33 ventilator dari UNDP, WHO, IOM

Indonesia akan terima 33 ventilator dari UNDP, WHO, IOM

Seorang karyawan memakai masker pelindung duduk di samping ventilator GE Carescape R860 di sebuah area perakitan dan uji coba di sebuah fasilitas manufaktur GE Healthcare saat penyebaran penyakit virus corona (COVID-19) di Madison, Wisconsin, Amerika Serikat, Selasa (21/4/2020). ANTARA FOTO/REUTERS/Daniel Acker/aww/cfo

Jakarta (ANTARA) - Indonesia akan menerima total 33 ventilator dari Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dan Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM).

Bantuan itu merupakan bagian dari upaya tiga organisasi PBB tersebut untuk memberikan bantuan penanggulangan COVID-19.

Pengiriman tahap pertama, yang mencakup dua ventilator masing-masing dari WHO dan IOM serta satu dari UNDP, telah tiba di Jakarta pada Senin. Ventilator akan diserahkan kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan selanjutnya disalurkan ke fasilitas kesehatan yang sangat membutuhkan di seluruh Indonesia.

“Dampak pandemi COVID-19 di Indonesia membutuhkan dukungan dan kemitraan semua pihak. Peralatan medis, yang dibeli oleh UNDP sebagai bagian dari inisiatif bersama dengan WHO dan IOM, akan membantu mengatasi salah satu kebutuhan yang paling mendesak dan akan memberikan perawatan kesehatan vital bagi para korban COVID-19,” kata Kepala Perwakilan UNDP Indonesia Christophe Bahuet dalam keterangan tertulis, Senin.

Sebagai tambahan, UNDP bersama dengan Sistem Pembangunan PBB akan mengintensifkan dukungannya untuk membantu mengatasi dampak sosio-ekonomi pandemi pada masyarakat Indonesia dan mempersiapkan pemulihan hijau berkelanjutan dalam kemitraan erat dengan Pemerintah.

“Pengiriman pertama ini adalah bagian dari komitmen kami untuk memberikan perawatan kepada mereka yang paling membutuhkan dan untuk memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal,” ujar Bahuet.

Meskipun banyak pasien yang terinfeksi COVID-19 tidak memerlukan perawatan di rumah sakit, penyakit tersebut dapat menyebabkan kerusakan pada paru-paru dan memerlukan penggunaan ventilator untuk membantu pasien mengatur pernapasan.

“Secara global, ada permintaan tinggi akan peralatan penting untuk mengobati COVID-19, sehingga ventilator ini akan memberikan dampak yang signifikan untuk memberikan perawatan kritis kepada pasien yang paling terkena dampak di seluruh Indonesia,” kata Kepala Perwakilan WHO untuk Indonesia Dr. N. Paranietharan.

Sementara itu, Kepala Misi dari Organisasi Internasional untuk Migrasi Louis Hoffmann menyatakan pandemi COVID-19 tidak hanya berdampak signifikan terhadap kesehatan, tetapi juga pada mobilitas masyarakat secara domestik maupun antarnegara, juga pada mata pencaharian, keamanan, dan kesejahteraan manusia.

"IOM bangga mendukung upaya respons Pemerintah RI untuk menanggulangi COVID-19, dan pengiriman ventilator ini adalah bagian dari paket persediaan dan peralatan medis yang akan diberikan IOM untuk mendukung masyarakat, migran dan pengungsi di Indonesia,” kata dia.

Bersama-sama, UNDP, WHO dan IOM akan menyediakan total 33 ventilator selama empat minggu dengan perkiraan biaya 762.460 dolar AS (sekitar Rp11 miliar).

Dari jumlah tersebut, WHO akan menyediakan 27 ventilator dengan dukungan kemitraan bersama pemerintah Jepang, sedangkan UNDP dan IOM masing-masing menyumbang tiga ventilator.

Operasi pengadaan logistik dilakukan oleh UNDP, dan pengiriman ventilator berikutnya diharapkan tiba dalam beberapa hari mendatang.

Baca juga: Pindad buat ventilator non-invasif tangani pasien COVID-19

Baca juga: Indonesia, AS bekerja sama untuk pengadaan ventilator

Baca juga: COVID-19 menjadi momen keluar dari ketergantungan impor alat kesehatan


 

Ventilator bantuan AS tiba di Indonesia awal Juni

 

Pewarta: Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar