Bank kekurangan uang tunai, penyaluran BLT Dana Desa di NTT terhambat

Bank kekurangan uang tunai, penyaluran BLT Dana Desa di NTT terhambat

Koordinator P3MD Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Kandidatus Angge. (ANTARA/Aloysius Lewokeda)

untuk wilayah tertentu yang pencairan dana desa hanya ada di satu bank maka penyaluran lebih lama lagi.
Kupang (ANTARA) - Koordinator P3MD Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Kandidatus Angge  mengemukakan persediaan uang tunai di Bank yang kurang menjadi faktor penghambat penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa.

"Kondisi yang dihadapi saat ini, banyak kabupaten di NTT yang menyalurkan  BLT Dana Desa itu terkendala dengan kurangnya uang tunai di bank," katanya kepada ANTARA di Kupang, Rabu.

Ia mengatakan kondisi tersebut terjadi di berbagai kabupaten seperti Malaka, Timor Tengah Utara, Sumba Barat Daya, Sabu Raijua, danRote Ndao.

Kandidatus Angge menjelaskan bahwa dalam sehari, penyaluran BLT Dana Desa hanya bisa menjangkau 5 sampai 10 desa di setiap daerah karena persediaan uang tunai yang terbatas di bank.

Baca juga: Kemendes: Lima kabupaten di NTT belum salurkan BLT dana desa

Apalagi, lanjut dia, untuk wilayah tertentu yang pencairan uang dana desa hanya ada di satu bank maka penyaluran lebih lama lagi.

"Kondisi ini yang perlu disiasati pihak pemangku kepentingan sehingga penyaluran BLT Dana Desa bisa dieksekusi dengan cepat," katanya.

Angge menjelaskan, hingga 1 Juni 2020, jumlah desa yang telah menyalurkan BLT Dana Desa untuk penanganan dampak pandemi virus corona jenis baru (COVID-19) yakni 1.286 desa dari total keseluruhan sebanyak 3.026 desa di NTT.

Sementara itu, jumlah desa yang sudah melakukan musyawarah khusus desa untuk penetapan penerima bantuan tersebut sebanyak 2.607 desa namun sebagian di antaranya masih menunggu penyaluran.

Baca juga: Ombudsman NTT minta pemda sediakan kanal pengaduan bansos COVID-19

Selain kendala persediaan uang di bank, faktor lain yang membuat penyaluran BLT Dana Desa lambat yaitu pihak desa diarahkan untuk menunggu hasil akhir Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dari Kementerian Sosial.

"Entah itu data terkait PHK, BNPT, BST, dan lainnya, sehingga pemerintah desa belum bisa melakukan eksekusi," katanya.

Adapun penyaluran BLT Dana Desa fase pertama, setiap penerima manfaat akan mendapatkan dana sebesar Rp600 ribu per bulan selama tiga bulan berturut-turut selama April, Mei, Juni.

Selanjutnya sesuai Peraturan Menteri Keuangan Nomor 50 Tahun 2020, nilai BLT Dana Desa yang disalurkan ke setiap penerima pada tahap kedua (Juli, Agustus, September) turun menjadi Rp300 ribu per bulan.

Baca juga: Penyaluran BLT Dana Desa tidak mengacu pada 14 kriteria kemiskinan

Pewarta: Aloysius Lewokeda
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Tertahan di Pelabuhan Lembar,  puluhan penumpang asal NTT berharap bisa segera pulang

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar