Pittsburgh (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyambut baik keputusan KTT G20 di Pittsburgh, Jumat, yang menjadikan kelompok negara ekonomi 20 sebagai lembaga permanen serta menggantikan G8 sebagai forum utama kerjasama ekonomi internasional.

Menurut Presiden Yudhoyono dalam jumpa pers dengan wartawan Indonesia di Hotel Westin, Pittsburgh, Pennsylvania, Jumat malam, keputusan tersebut membuat Indonesia berada di tempat yang sangat strategis dalam menentukan arah kebijakan perekonomian global.

Indonesia saat ini merupakan negara dengan ekonomi nomor 16 terbesar di dunia.

"Ini sesuai dengan harapan Indonesia, G-20 akan menjadi lembaga permanen dan itu bagus. Sebab kalau hanya G-7, G-8, itu hanya betul-betul mewakili negara maju, kebanyakan Eropa. Hanya satu yang di Asia, yaitu Jepang," kata Yudhoyono.

G8 sendiri terdiri dari Amerika Serikat, Inggris, Italia, Jerman, Jepang, Kanada, Prancis dan Rusia.

G20, kata Presiden, merupakan lembaga yang sangat mewakili kepentingan negara-negara di dunia, baik negara maju, negara dengan kekuatan ekonomi baru maupun negara berkembang.

Adanya kelompok G20 yang permanen, ujarnya, membuat peradaban dunia semakin lengkap, baik peradaban Barat, Timur maupun Islam.

"Forum ini menurut saya kelak tidak hanya memikirkan perekonomian global, tapi boleh jadi menjadi forum untuk memikirkan dunia makin aman, konflik makin susut, kekerasan bisa kita eliminasi, sekaligus menjadi forum untuk mewujudkan kerukunan di antara peradaban," kata Presiden.

Saat jumpa pers, Presiden Yudhoyono menyampaikan berbagai pandangan yang ia sampaikan ketika mengikuti pertemuan G-20 di Pittsburgh yang berlangsung pada 24-25 September.

Seluruh rangkaian pertemuan para pemimpin negara ekonomi Kelompok 20 berlangsung secara tertutup sehingga tidak dapat diliput para wartawan yang pada Jumat membanjiri tempat berlangsungnya KTT, yaitu David L. Lawrence Convention Center.

Pada pertemuan dengan kepala negara/pemerintahan --termasuk sang tuan rumah, Presiden AS Barack Obama, Presiden SBY antara lain menyarankan G20 --yang akan mengadakan pertemuan berikutnya di Kanada pada Juni 2010 dan di Korea Selatan pada November 2010-- mengevaluasi semua proses pemulihan, baik di tingkat global, kawasan dan masing-masing negara.

Evaluasi tersebut perlu dilakukan terutama berkaitan dengan kepercayaan pasar, aliran modal, investasi dan perdagangan, ekonomi riil serta stabilitas pangan dan energi.

"Jika semua indikasi itu menunjukkan hal yang positif, kita boleh mengatakan resesi akhirnya sudah pada tahap akhir dan segera memikirkan `exit strategy`," kata Presiden.

Melalui KTT dua harinya, para pemimpin negara-negara G20 sendiri sepakat akan bekerja keras untuk menyehatkan kembali ekonomi global serta memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi global di masa depan lebih kuat, berimbang dan berkelanjutan.

G20, yang dibentuk tahun 1999 terdiri dari negara dan dipimpin oleh:

1. Afrika Selatan: Presiden Jacob Zuma

2. Amerika Serikat: Presiden Barack Obama

3. Arab Saudi: Raja Abdullah

4. Argentina: Presiden Cristina Fernandez de Kirchner

5. Australia: Perdana Menteri Kevin Rudd

6. Brasil: Presiden Luiz Inacio Lula da Silva

7. China: Presiden Hu Jintao

8. India: Perdana Menteri Manmohan Singh

9. Indonesia: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

10. Inggris: Perdana Menteri Gordon Brown

11. Italia: Perdana Menteri Silvio Berlusconi

12. Jepang: Perdana Menteri Yukio Hatoyama

13. Jerman: Kanselir Angela Merkel

14. Kanada: Perdana Menteri Stephen Harper

15. Korea Selatan: Presiden Lee Myung-bak

16. Meksiko: Presiden Felipe Calderon

17. Perancis: Presiden Nicolas Sarkozy

18. Rusia: Presiden Dmitry Medvedev

19. Turki: Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan

20. Uni Eropa --diwakili oleh presiden bergilir UE dan Bank Sentral Eropa. (*)

Pewarta:
Editor: Aditia Maruli Radja
Copyright © ANTARA 2009