Andong dan becak di Yogyakarta wajib dilengkapi tirai pembatas

Andong dan becak di Yogyakarta wajib dilengkapi tirai pembatas

Sejumlah becak kayuh terparkir di Malioboro Yogyakarta. ANTARA/Eka Arifa Rusqiyati/am.

Yogyakarta (ANTARA) - Armada andong dan becak yang beroperasi di Kota Yogyakarta, khususnya Malioboro diwajibkan mematuhi protokol kesehatan untuk mencegah penularan virus corona, salah satunya memasang tirai pembatas antara kusir dan penumpang.

“Selain kusir diwajibkan mengenakan masker, pelindung wajah dan membawa hand sanitizer, andong pun harus dilengkapi dengan tirai pembatas antara kusir dan penumpang. Perintahnya seperti itu,” kata Ketua Paguyuban Kusir Andong Yogyakarta Purwanto di Yogyakarta, Kamis.

Menurut dia, permintaan untuk pemasangan tirai di andong tersebut sudah disampaikan oleh pemerintah daerah pada Kamis pekan lalu dan langsung ditindaklanjuti oleh pemilik andong yang sehari-hari beroperasi di kawasan Malioboro.

Baca juga: Yogyakarta tanggung seluruh biaya penanganan medis pasien COVID-19

Purwanto mengatakan, pemasangan tirai pembatas tersebut dibiayai secara mandiri oleh masing-masing pemilik andong dengan biaya yang beragam yaitu Rp250.000 untuk pembatas dari bahan akrilik, Rp125.000 untuk pembatas dari mika dan lebih murah lagi apabila menggunakan bahan plastik biasa.

“Belum seluruh andong beroperasi kembali karena kondisinya masih seperti ini. Kami akan memberikan penjelasan secara perlahan-lahan supaya mereka paham dan mematuhi protokol kesehatan yang diwajibkan,” katanya.

Saat ini, lanjut Purwanto, dari 387 andong yang terdaftar beroperasi di Kota Yogyakarta hanya sekitar 10 andong yang sudah mulai beroperasi di Malioboro.

“Jumlah penumpang pun belum banyak,” katanya yang menyebut tidak memberlakukan pembatasan kapasitas andong karena biasanya yang menyewa andong adalah rombongan keluarga yang sehari-hari pasti sudah berkumpul.

Tempat duduk di samping kusir pun dapat ditempati oleh penumpang karena kusir dan penumpang juga sudah sama-sama mengenakan masker.

Hal senada disampaikan Ketua Komunitas Becak Malioboro-A.Yani Jiyono yang mengatakan menerapkan protokol kesehatan dengan mengenakan masker, pelindung wajah dan membawa hand sanitizer.

Baca juga: Monumen Jogja Kembali tunggu SOP normal baru untuk menerima wisatawan

“Untuk becak, juga harus dilengkapi tirai sebagai pembatas antara pengemudi dan penumpang. Biaya pemasangannya tidak banyak sekitar Rp25.000 karena terbuat dari plastik,” katanya.

Ia menyebut, sudah meminta seluruh pengemudi becak untuk mematuhi aturan protokol kesehatan.

“Saat ini, becak yang beroperasi juga belum banyak. Penumpang pun kadang ada tetapi kadang juga tidak. Tetapi, jika ada perintah untuk menjalankan protokol kesehatan, maka harus didukung supaya kondisi wisata kembali ramai,” katanya.

Sementara itu, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Malioboro Ekwanto mengatakan, sudah meminta andong dan becak untuk mematuhi protokol kesehatan.

“Jika pekan depan masih ada yang tidak mematuhi protokol kesehatan di Malioboro, maka akan kami pulangkan. Tidak boleh masuk,” katanya.

Saat ini, jumlah becak dan andong yang beroperasi di Malioboro belum terlalu banyak, baru sekitar lima persen dari total jumlah armada kendaraan tidak bermotor yang biasanya beroperasi di kawasan wisata itu.

“Untuk penumpang, memang idealnya ada pembatasan. Tetapi untuk andong sedikit sulit karena penumpangnya biasanya rombongan keluarga, sedangkan becak idealnya satu penumpang saja,” katanya.

Baca juga: Pelaku wisata Yogyakarta diminta terapkan QR Code saat normal baru
Baca juga: Aktivitas jual beli batik di Pasar Beringharjo perlahan bangkit
Baca juga: Yogyakarta akan perbanyak titik QR Code untuk pendataan dan "tracing"


Pewarta: Eka Arifa Rusqiyati
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Pertemuan besar wajib patuhi 5 pedoman ini

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar