Artikel

Membangkitkan kembali sektor pariwisata Sumbar saat normal baru

Oleh Ikhwan Wahyudi

Membangkitkan kembali sektor pariwisata Sumbar saat normal baru

Anak-anak bermain di pelataran Monumen Merpati Perdamaian di Pantai Muaro Lasak, Padang, Sumatera Barat, Sabtu (6/6/2020). (Antara/Iggoy El Fitra)

Sudah hampir tiga bulan kami tidak beroperasi karena tak ada penyewa, bahkan ada usaha peminjaman mobil yang terancam bangkrut.
Padang, (ANTARA) - Tiga bulan sejak Maret 2020 banyak bus pariwisata di Kota Padang, Sumatera Barat, hanya terparkir di pool dan mesinnya dipanaskan sekali dua hari.

Sejak pandemi Corona Virus Disease (COVID-19) mewabah, salah satu sektor yang paling terdampak adalah pariwisata.

Kendati merugi hingga Rp15 juta sampai Rp20 juta per hari, Ori masih lebih beruntung karena sejumlah rekan lainnya ada yang unitnya disita perusahaan pembiayaan karena tak sanggup mengangsur cicilan kendaraan.

Baca juga: Pengusaha bus pariwisata diminta lakukan penyesuaian normal baru

Sejak pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Sumatera Barat selama 47 hari mulai 22 April hingga 7 Juni 2020 tak ada warga  yang berpelesir termasuk menggunakan bus pariwisata.

"Sudah hampir tiga bulan kami tidak beroperasi karena tak ada penyewa, bahkan ada usaha peminjaman mobil yang terancam bangkrut," kata salah seorang pemilik usaha sewa kendaraaan di Padang Orion Holiday, Fordismen.

Menurut dia, sejak pemerintah menetapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mobil yang biasa digunakan oleh pelanggan lebih banyak berada di garasi.

"Apalagi saat PSBB ada anjuran agar orang lebih banyak melakukan kegiatan di dalam rumah, ya udah pasti kita nggak ada konsumen," kata dia.

Baca juga: Pemprov Sumbar batalkan empat kegiatan pariwisata

Pemilik12 unit kendaraan terdiri atas bus pariwisata 48 seat hingga yang medium 29 seat itu mengaku mengalami kerugian Rp15 hingga Ro20 juta per hari semenjak diberlakukan PSBB.

Senada dengan itu Direktur PT Cahaya Wisata Andalas, Budiman yang juga ketua Padang Community Rental mengakui bisnis yang dikelolanya dari 2005 terancam bangkrut akibat pandemi corona dan diperparah dengan aturan perusahaan pembiayaan yang tidak memihak kepada pengusaha rental.

PT Cahaya Wisata Andalas yqng memiliki lebih dari 10 kendaraan mulai berhenti beroperasi semenjak awal Maret 2020.

Mereka berharap pemerintah menyuarakan aspirasi sehingga pihak pembiayaan memberikan keringanan dan kelonggaran cicilan yang masih berjalan.
Kapal wisata melintas di perairan Pantai Gandoriah Pariaman, Sumatera Barat, Sabtu (20/6/2020). (Antara/Iggoy El Fitra)

Baca juga: Bisnis oleh-oleh Lombok, antara bertahan dan mati suri

Nihil Kunjungan

Berdasarkan data yang dihimpun dari Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat pada April 2020 kunjungan wisatawan asing ke daerah itu nihil karena  pandemi COVID-19.

"Jika pada Maret 2020 masih ada 2.495 wisatawan asing yang berkunjung ke Sumbar pada April 2020 turun 100 persen atau tidak ada sama sekali kedatangan," kata Kepala BPS Sumbar Pitono.

Ia menyebutkan pada Januari sampai April 2020 terdapat 10.874 wisatawan asing yang telah berkunjung ke Sumbar didominasi dari Malaysia 8.831 orang, Australia 296 orang dan China 255 orang.

Baca juga: Bupati Purbalingga minta objek wisata atur jumlah pengunjung

Tidak hanya itu pada April 2020 jumlah penumpang angkutan udara di Bandara Internasional Minangkabau juga mengalami penurunan dibandingkan Februari.

Pada April jumlah penumpang yang berangkat hanya 15,11 ribu orang atau turun 81,77 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan penumpang yang tiba 29,15 ribu orang atau turun 72,88 persen.

Sejalan dengan itu Akademisi Universitas Andalas (Unand) Padang Dr Sari Lenggogeni menilai sektor pariwisata merupakan salah satu yang terdampak pandemi COVID-19.

"Butuh waktu setidaknya hingga dua tahun untuk memulihkan kembali sektor pariwisata di Tanah Air yang saat ini terpukul," kata dia.

Baca juga: Luhut nilai pariwisata Banyuwangi siap dibuka

Ia memaparkan sektor pariwisata amat rentan terhadap bencana alam dan krisis, saat ini yang terjadi adalah krisis bidang kesehatan yang membuat minat orang berwisata turun drastis.

Menurutnya mengacu kepada data yang dilansir WTO yang merupakan badan PBB yang membidangi pariwisata kondisi ini setara dengan penurunan turis selama tujuh tahun dari angka yang ada saat ini.

"Ini juga mengakibatkan sekitar 400 juta orang di seluruh dunia yang bergerak di bidang pariwisata kehilangan pekerjaan," kata dia.

Pandemi COVID-19 juga telah menyebabkan kota Padang, Sumatera Barat kehilangan pendapatan dari sektor pariwisata sekitar Rp174 miliar.

"Sektor pariwisata merupakan salah satu penyumbang pendapatan terbesar di Padang sejak Februari sampai Mei 2020 nyaris tidak ada lagi orang berwisata ke Padang," kata Kepala Dinas Pariwisata Kota Padang Arfian.

Arfian menyebutkan pemasukan dari retribusi Pantai Air Manis saja kehilangan pendapatan dalam tiga bulan terakhir mencapai Rp60 juta.

"Apalagi saat libur Lebaran kemarin seharusnya bisa mencapai Rp100 juta karena wisatawan meningkat, namun karena COVID-19 menyebabkan objek wisata ditutup," ujarnya.
 
Pengunjung keluar dari bilik ultraviolet untuk disinfektan tubuh dari bakteri dan virus di pintu masuk objek wisata Pantai Air Manis, Padang, Sumatera Barat, Minggu (14/6/2020). (Antara/Iggoy El Fitra)

Bangkit Kembali

Sektor pariwisata merupakan kontributor utama bagi penerimaan daerah di Sumatera Barat dan memasuki era normal baru semua pihak berharap dapat kembali menggeliat.

Pemerintah Provinsi Sumatera Barat bergerak cepat dan mulai mempromosikan wisata bebas COVID-19 sebagai upaya membuka diri terhadap kunjungan wisatawan

Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mengatakan bagi orang-orang dengan status ekonomi menengah ke atas berwisata merupakan suatu kebutuhan hidup termasuk masyarakat yang selama ini telah jenuh di rumah saja.

Irwan mengatakan dalam menyiapkan wisata Sumbar bebas COVID-19 pihaknya juga akan melakukan swab test gratis bagi setiap pengelola travel, pelaku wisata dan hotel-hotel lainnya.

Selain itu dalam penerapan Tatanan Normal Baru, Produktif dan Aman Covid (TNB-PQC) mendukung pelaksanaan kepariwisataan dan ia meminta Bupati dan Wali kota membuat Perbup dan Perwako yang dapat mengacu pada Pergub Sumbar dan aturan kementerian yang ada.

Sejak ditetapkan tatanan normal baru produktif dan aman COVID di Provinsi Sumatera Barat beberapa destinasi wisata di Sumbar mulai dibuka dan mulai menggeliat meski belum seluruhnya.

Menindaklanjuti hal itu Dinas Pariwisata Kota Padang juga telah menyiapkan Pantai Air Manis menjadi salah satu destinasi wisata yang direkomendasikan di masa normal baru karena sudah didukung sarana dan prasarana yang memadai.

"Salah satu destinasi wisata yang kami rekomendasikan adalah Pantai Air Manis Padang, karena berbagai persiapan untuk mengisi masa new normal sudah dilakukan," kata Kepala Dinas Pariwisata Padang Arfian.

Ia mengatakan pada Pantai Air Manis yang kini dikelola oleh Perusahaan Daerah (Perusda) Padang Sejahtera Mandiri telah menerapkan seluruh protokol kesehatan.

Mulai dari pintu masuk dengan mewajibkan pengunjung memakai masker, pengukuran suhu tubuh serta pengecekan kesehatan.

"Pengunjung yang tidak menggunakan masker dilarang masuk ke pantai Air Manis," katanya menegaskan.

Pembayaran tiket masuk pun juga telah menggunakan sistem transaksi nontunai sehingga mengurangi kontak langsung antara pengunjung dan petugas.

Di dalam lokasi wisata andalan Kota Padang itu sudah disediakan lima titik tempat mencuci tangan yang bisa digunakan pengunjung.

Selain itu, katanya, pedagang yang lokasinya berada di bawah pengelolaan Perusda juga diwajibkan menggunakan masker dan pelindung wajah.







 

Oleh Ikhwan Wahyudi
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020

BI dan Pemprov Sumbar dorong pemulihan ekonomi dari sektor pariwisata

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar