Stafsus Mendagri: Optimistis partisipasi pemilih Pilkada 70-80 persen

Stafsus Mendagri: Optimistis partisipasi pemilih Pilkada 70-80 persen

Ilustrasi Pilkada Serentak 2020. (ANTARA/HO/20)

Kita harus bangun semacam skenario optimistis. Partisipasi pilkada kalau saya mengatakan minimum sama seperti pemilu yang lalu, artinya tidak anjlok seperti salah satu negara, Iran itu anjlok dari 50 menjadi 25 persen
Jakarta (ANTARA) - Staf khusus menteri dalam negeri Kastorius Sinaga optimistis Pemilihan Kepala Daerah Serentak 2020 akan meraup partisipasi pemilih pada rentang 70-80 persen.

Kastorius Sinaga di Jakarta, Selasa, mengatakan Indonesia juga bisa sukses menyelenggarakan pemilu mengikuti jejak sejumlah negara yang berhasil menyelenggarakan pemilu di tengah pandemik COVID-19.

"Syaratnya yaitu bisa meyakinkan masyarakat pemilih bahwa mereka aman di dalam melakukan hak konstitusional memilih dan dipilih, kemudian penerapan protokol kesehatan di dalam pemilu, disiplin masyarakat, dan saling bahu membahu dalam menyukseskan pilkada," kata dia.

Untuk menyukseskan pilkada, pemerintah bersama penyelenggara pemilu kata dia sudah mengupayakan secara maksimal tentang dukungan terhadap penerapan protokol kesehatan, menyiapkan berbagai macam regulasi yang diperlukan, serta pemenuhan anggaran sesuai dengan kebutuhan pemilu di tengah pandemik.

Baca juga: KPU Jatim pastikan tak ada petugas PPS/PPK mundur akibat COVID-19

"Kita harus bangun semacam skenario optimistis. Partisipasi pilkada kalau saya mengatakan minimum sama seperti pemilu yang lalu, artinya tidak anjlok seperti salah satu negara, Iran itu anjlok dari 50 menjadi 25 persen," ujarnya.

Kastorius mengatakan jika melihat dari kesungguhan KPU dalam menyiapkan pilkada dengan protokol kesehatan, partisipasi kali ini tidak akan anjlok bahkan Indonesia akan tercatat sebagai negara dengan pemilihan dan jumlah pemilih terbesar yang sukses menyelenggarakan pemilu di tengah pandemik.

Optimistis partisipasi tersebut lanjut dia juga muncul karena masyarakat Indonesia sejak dulu selalu menjadi masyarakat yang aktif dalam berdemokrasi dan berpolitik, dan Indonesia termasuk negara yang masyarakatnya aktif menggunakan hak pilih.

"Hanya sekarang bedanya sedang kondisi extraordinary, nah itu lah yang perlu kita yakinkan bahwa pilkada ini aman (agar tingkat partisipasi pemilu di Indonesia tetap tinggi). Nah di sinilah saatnya memang seluruh stakeholder bukan hanya penyelenggara pemilu, tapi elemen lain yang turut berkontribusi," ucapnya.

Baca juga: Riau miliki 14.980 pemilih pemula di Pilkada 2020

Penyelenggaraan pemilu di Korea Selatan dan Polandia yang berhasil dengan angka partisipasi tinggi meski sedang dalam situasi pandemik COVID-19, lanjut dia memberikan inspirasi serta semangat bagi Indonesia untuk menyelenggarakan pilkada dengan sukses pula.

Pada April 2020, Korea Selatan berhasil menyelenggarakan pemilu legislatif mereka dengan partisipasi pemilih tertinggi setelah merosot angkanya sejak 1992 lalu.

Kemudian, Minggu 28 Juni ini, giliran Polandia yang sukses menyelenggarakan pemilunya, pemilu presiden putaran pertama mereka mencatatkan partisipasi pemilih tertinggi sepanjang sejarah pemilu Polandia dengan partisipasi sebesar 62,9 persen.

Baca juga: Gubernur Jatim harapkan angka partisipasi Pilkada 2020 tetap tinggi

Baca juga: Mendagri: Ide penanganan COVID-19 bisa jadi isu kontestan Pilkada 2020

Baca juga: Menkopolhukam: Jatim siap gelar Pilkada serentak 2020

Pewarta: Boyke Ledy Watra
Editor: Chandra Hamdani Noor
COPYRIGHT © ANTARA 2020

KPU batasi jumlah massa pendukung paslon saat mendaftar

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar