LIPI dorong pembangunan ekosistem desa kreatif

LIPI dorong pembangunan ekosistem desa kreatif

Perajin menunjukkan tas koja khas warga Baduy di Desa Kanekes, Lebak, Banten, Selasa (26/2/2019). Pemerintah terus mengoptimalkan pembinaan serta pemasaran kerajinan yang dikembangkan oleh masyarakat Baduy untuk meningkatkan pendapatan mereka sekaligus menyerap tenaga kerja warga setempat. ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/af/ama. (ANTARA FOTO/MUHAMMAD BAGUS KHOIRUNAS)

Perlu kolaborasi antarpemangku kepentingan dalam pengembangan model atau strategi pengembangan eksositem desa kreatif
Jakarta (ANTARA) - Kepala Pusat Penelitian (Kapuslit) Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Agus Eko Nugroho mendorong pembangunan ekosistem desa kreatif untuk meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan desa.

"Perlu kolaborasi antarpemangku kepentingan dalam pengembangan model atau strategi pengembangan ekosistem desa kreatif," katanya dalam seminar virtual bertajuk "Desa Global Menyikapi Persaingan Global dan Transformasi Baru", di Jakarta, Kamis.

Dia mengatakan desa perlu semakin baik dalam membangun institusi yang mampu memadukan daya saing, inklusifitas dan pembangunan berkelanjutan secara lebih berimbang.

"Desa harus mampu bertahan dalam kondisi kenormalan baru sebagai dampak dari wabah COVID-19," katanya.

Pembangunan ekosistem desa kreatif, katanya, harus melibatkan seluruh pemangku kepentingan, termasuk swasta, memanfaatkan modal sosial, mengeksplorasi kekayaan budaya, mengembangkan dan mengelola potensi lokal.

Selain itu, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta mencari dan menerapkan model yang terbaik untuk peningkatan ekonomi desa.

Agus mengatakan bahwa berdasarkan data Potensi Desa (PODES) 2018, dari jumlah sebanyak 75.436 desa, baru sekitar 7,43 persen desa masuk dalam kategori mandiri, dengan rincian 73,4 persen desa berkembang, dan 19,17 persen desa tertinggal.

Sementara dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, pemerintah menargetkan 5.000 desa mandiri baru.

Untuk itu, kata dia, budaya harus ditonjolkan oleh desa sebagai modal dasar pembangunan dalam menghadapi kenormalan baru.

Ia menyatakan perlu dilakukan analisis pembandingan praktik, baik model dan strategi pengembangan ekosistem desa kreatif, sehingga dapat dikembangkan strategi dan model yang cocok untuk pengembangan desa dengan memperhatikan potensi dan kekayaan budaya desa.

Implementasi model pengembangan desa kreatif, kata dia,  juga harus dilakukan melalui kerja sama multi pemangku kepentingan. Kolaborasi antar pemangku kepentingan juga diperlukan untuk pengembangan dan penyempurnaan model ekonomi kreatif.

Ia juga menekankan pentingnya peningkatan pemahaman dan identifikasi determinasi utama bekerjanya ekosistem kreatif dalam perdesaan.

"Perdesaan menjadi tumpuan dalam akumulasi nilai tambah dan penyerapan tenaga kerja," kata Agus Eko Nugroho.

Sementara itu, Ketua Pusat Unggulan Pariwisata Universitas Udayana (Unud) Denpasar Agung Suryawan Wiranatha mengatakan perlunya ditingkatkan pariwisata kreatif berbasis wisata perdesaan.

Ia mengatakan pariwisata kreatif akan menjadi bagian dari kekuatan dalam pembangunan desa, sekaligus juga akan dapat meningkatkan perekonomian desa.

"Apapun kreativitas yang dikembangkan itu berbasis potensi lokal atau sesuai karakteristik destinasi wisata yang dikunjungi itu keunikan sebuah destinasi yang diminati wisatawan," demikian Agung Suryawan Wiranatha.

Baca juga: Kemenkeu dorong dana desa untuk pembangunan kreatif

Baca juga: Peneliti: Pemerintah perlu kenalkan ekonomi kreatif kepada desa

Baca juga: Kemendes PDTT gaungkan Satu Desa Satu Inovasi, pacu produktivitas desa


 

Pewarta: Martha Herlinawati S
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar