Investasi Bintan Alumina tahap awal Rp20 triliun

Investasi Bintan Alumina tahap awal Rp20 triliun

Direktur Utama PT Bintan Alumina Indonesia, Santoni (Nikolas Panama)

Tanjungpinang (ANTARA) -
Perusahaan penanaman modal asing, PT Bintan Alumina Indonesia (BAI) tahap awal berinvestasi Rp20 triliun di Kawasan Ekonomi Khusus di Galang Batang, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau.

Direktur Utama PT BAI Santoni, di Bintan, mengatakan, investasi tahap awal itu hingga akhir 2020. Nilai investasi akan ditingkatkan ketika sudah memasuki tahap operasi produksi terhadap bauksit yang dimurnikan di pabrik smelter yang saat ini dalam proses penyelesaian pembangunan di Galang Batang.

Perusahaan berskala besar itu juga masih dalam proses penyelesaian pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Kawasan Ekonomi Khusus.

"Pembangunan jalan, infrastruktur dan lainnya saat ini sudah menghabiskan dana sekitar Rp12 triliun," katanya.

Santoni menargetkan pembangunan pabrik smelter dan PLTU selesai pada akhir 2020. Tahun 2021, perusahaan itu akan memulai tahap operasi produksi.

Untuk menyelesaikan target tersebut, ia berharap dukungan dari pemerintah pusat dan daerah, terutama dari aspek birokrasi. Birokrasi perijinan yang berbelit-belit membuat energi perusahaan banyak terkuras. Apalagi dalam proses pemberian ijin ditemukan regulasi yang tumpang tindih sehingga manajemen perusahaan mengalami kesulitan untuk menyelesaikannya.

"Kami tidak main-main dalam membangun Bintan. Kami tidak meminta yang aneh-aneh, kecuali birokrasi yang dipermudah oleh pemerintah pusat dan daerah. Kami ingin kepastian hukum agar kegiatan yang dibangun perusahaan berjalan lancar, tidak ada masalah," ujarnya.

Ia mengatakan PT BAI membutuhkan tenaga ahli. Jika tenaga ahli lokal maupun daerah lainnya di Indonesia mencukupi, PT BAI tidak akan bekerja sama dengan perusahaan lainnya di China untuk menyelesaikan proyek pembangunan PLTU dan pabrik smelter.

Saat ini ada sekitar 100 orang lebih tenaga kerja asal China yang bekerja di PT BAI. Mereka merupakan tenaga ahli yang dikirim dari China untuk menyelesaikan pekerjaan di kawasan PT BAI.

PT BAI membutuhkan sekitar 500 orang tenaga kerja asal China untuk mempercepat penyelesaian proyek tersebut. Mereka paling lama bekerja di kawasan PT BAI empat bulan.

"Setelah selesai dengan pekerjaan itu, mereka kembali ke China," ucapnya.

Komitmen PT BAI dalam meningkatkan kualitas tenaga kerja lokal dan daerah lainnya di Indonesia juga sudah dilakukan. Sebanyak 80 orang tenaga kerja asal Bintan dan daerah lainnya di Indonesia mengikuti pelatihan di China selama lebih dari setahun.

"Dalam waktu dekat mereka kembali ke Indonesia, bekerja di PT BAI. Mereka sudah berkualitas untuk bidang operasi produksi," katanya.

Pewarta: Nikolas Panama
Editor: Adi Lazuardi
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Batam sambut investasi Rp10 triliun pada sektor digital

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar