KAGAMA ajak masyarakat hadapi krisis dengan gotong royong dari desa

KAGAMA ajak masyarakat hadapi krisis dengan gotong royong dari desa

Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) KAGAMA Ganjar Pranowo berbicara dalam acara webinar bertajuk Desa Inklusif: Basis Solidaritas Bangsa, Kamis 3/7/2020). ANTARA/HO-Aspri

kita butuh pendamping di desa
Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) KAGAMA Ganjar Pranowo mengajak masyarakat untuk bersama-sama menghadapi krisis dengan semangat gotong royong, yang banyak tumbuh di antara masyarakat desa.

"Sekarang ini kita mikir-mikir kalau bantuannya terbatas dan tidak merata serta pandeminya tidak segera berakhir, tentu saja ini menimbulkan ketidakpastian. Lalu (kekuatan) apa yang ada? Saya mikir yang ada adalah kekuatan desa, kekuatan komunitas, dan ekosistem yang sudah terbangun di sana," kata Ganjar melalui keterangan tertulis yang diterima ANTARA, Jakarta, Jumat.

Pada webinar bertajuk Desa Inklusif: Basis Solidaritas Bangsa yang digelar Kamis (2/7) itu, Ganjar mengatakan pandemi COVID-19 telah menimbulkan ketidakpastian dan dampak sosial yang perlu dicarikan solusi secara tuntas dan segera.

Misalnya terkait bantuan dana yang tidak semua warga bisa mendapatkannya karena anggaran negara memang memiliki keterbatasan.

Selain bantuannya terbatas, masalah yang muncul di lapangan, kata Ganjar, adalah terkait distribusi bantuan yang tidak merata. Hal itu terjadi karena data penerima bantuan yang valid belum tersedia. Padahal data valid itu sangat dibutuhkan untuk memastikan bantuan sosial merata dan tepat sasaran.

Baca juga: Posko "Jogo Tonggo" Desa Gambasan Temanggung sediakan sembako gratis
Baca juga: Ganjar ajak masyarakat "Jogo Tonggo" melawan COVID-19


Dengan pendekatan sosiologis yang baik, kultural yang baik pula, hubungan antar-kelompok kepentingan di level desa dapat menyusun konsensus sendiri.

“Karenanya kita butuh pendamping di desa. Saya senang sekali kemarin diminta untuk melepas mahasiswa KKN UGM ke lapangan. Inklusifitas di desa bisa kita dorong," ujar Ganjar.

Gubernur Jawa Tengah itu mengatakan, bahwa di Jawa Tengah dirinya telah menginisiasi Jogo Tonggo, gerakan gotong-royong yang dilakukan masyarakat untuk saling menjaga satu sama lain baik dalam penerimaan bantuan dari pemerintah maupun dalam kegiatan gotong royong lain.

Semangat gotong royong yang ditumbuhkan dari gerakan tersebut menurutnya efektif untuk mengawal bantuan dari pemerintah agar sampai kepada pihak yang berhak menerima.

Baca juga: Ganjar Pranowo siapkan Satgas "Jogo Tonggo" antisipasi warga kelaparan
Baca juga: FPKB kritisi Program "Jogo Tonggo" pada penanganan COVID-19


Keterlibatan masyarakat desa secara aktif juga dirasakan Ganjar dalam program canthelan yang diinisiasi oleh KAGAMA. Gerakan itu, kata Ganjar, sudah mulai ditiru di tingkat desa.

"Kemarin saya temukan di Temanggung, seorang ibu, beliau asisten rumah tangga yang bosnya jualan sayuran," kata dia.

Si ibu itu menyumbang kacang panjang, bayem, kangkung, kubis, lombok untuk masyarakat, sementara dia mengambil secukupnya saja.

“Ketika ditanya apakah ibu tidak butuh. Beliau jawab, kasihan, Pak, kalau ada yang lapar. Ini pahala, investasi akhirat," kata Ganjar menirukan percakapannya dengan asisten rumah tangga tersebut.
Sekretaris Jenderal PP KAGAMA Arie Dwipayana berbicara dalam acara webinar bertajuk Desa Inklusif: Basis Solidaritas Bangsa pada Kamis, Jawa Tengah, Kamis 3/7/2020).  ANTARA/HO-Aspri


Ganjar menekankan nilai-nilai yang berkembang di desa tersebut sangat penting dan perlu terus didorong menjadi modal sosial untuk kebaikan bersama.

“Maka kawan-kawan pendamping desa, pendamping lokal, tokoh masyarakat, karang taruna, ini kekuatan yang sangat dahsyat," katanya lebih lanjut.

Di samping itu, Ganjar menyebut bahwa dunia saat ini sudah mulai menghentikan ekspor bahan makanan.

“Ini sebenarnya lonceng buat kita. Yuk kita gerakkan ketahanan pangan di level desa, kedaulatan pangan di level desa,” kata dia.

Ganjar juga mengajak masyarakat untuk mulai menggalakkan kebiasaan baru dalam mengatur menu makanan, yaitu dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada di lingkungan sekitar. Misalnya, nasi yang bisa dipadukan dengan umbi-umbian, sagu dengan beras, dan seterusnya.

“Ini kan soal daulat pangan. Ini soal perut kita yang bisa kita kontrol sendiri. Selama ini kan tubuh kita makan makanan olahan semacam mie instan. Padahal kalau kita makan fresh food, tubuh kita bisa lebih sehat,” demikian kata Ganjar.

Acara webinar bertajuk Desa Inklusif: Basis Solidaritas Bangsa itu juga dihadiri Sekretaris Jenderal PP KAGAMA Arie Dwipayana, Sekjen Kemendes PDTT sekaligus Wakil Ketua Umum II PP KAGAMA Anwar Sanusi dan beberapa narasumber lainnya.

Baca juga: Indef dukung upaya Kementan diversifikasi pangan di tengah pandemi
Baca juga: Pangdam Udayana dan Bupati Gianyar tanam padi demi ketahanan pangan
Baca juga: Pertanian pekarangan jaga ketahanan pangan keluarga di era pandemi

Pewarta: Katriana
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Hindari kerumunan, panitia sembelihkan hewan kurban di RPH

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar