Pertanian pekarangan jaga ketahanan pangan keluarga di era pandemi

Pertanian pekarangan jaga ketahanan pangan keluarga di era pandemi

Model pertanian di lahan pekarangan yang dikembangkan Badan Litbang Pertanian Kementan. ANTARA/Dokumentasi Badan Litbang Pertanian Kementan

Dengan bertani di halaman rumah kualitas hidup meningkat sekaligus pasokan pangan dapat dipenuhi sendiri
Jakarta (ANTARA) - Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian mengajak masyarakat melakukan budi daya pertanian di pekarangan sebagai upaya menjaga ketahanan pangan keluarga pada saat pandemi.

Kepala Badan Litbang Pertanian Fadjry Djufry mengungkapkan potensi lahan pekarangan untuk ketahanan pangan keluarga perlu dibangkitkan, tidak hanya masa pandemi karena sudah ada modelnya dari Kementerian Pertanian.

"Dengan bertani di halaman rumah kualitas hidup meningkat sekaligus pasokan pangan dapat dipenuhi sendiri," katanya melalui keterangan tertulis di Jakarta, Jumat.

Baca juga: Balitbangtan: Sambung Nyawa tanaman liar dengan manfaat kesehatan

Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan (BBSDLP) Kementan Husnain menambahkan pekarangan dapat dimanfaatkan untuk pertanian dengan teknologi yang paling sederhana, hidroponik, hingga smart technology seperti pemanfaatan energi surya.

"Semua dapat dipilih tergantung skala yang diinginkan. Mulai sekadar hobi untuk rumahan tetapi bisa juga untuk komersial," katanya saat Bimbingan Teknis Pertanian di Lahan Pekarangan, Rabu (24/6/2020).

Bila semua memanfaatkan sejengkal tanahnya, lanjutnya, krisis pangan dapat dihindari dari rumah tangga.

Menurut Kepala Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra) Yiyi Sulaeman, bertani di pekarangan juga dapat memanfaatkan teknologi pada era Industri 4.0.

"Bertani bisa dengan cara cerdas. Irigasi yang seringkali menyita waktu dapat memanfaatkan sistem irigasi cerdas yang dikendalikan dengan Android," katanya.

Irigasi cerdas bahkan hidroponik juga dapat dikombinasikan dengan energi cerdas yaitu memanfaatkan energi surya. Bila mengandalkan listrik dari rumah maka bertani di pekarangan menjadi berbiaya tinggi.

"Sirkulasi air itu boros energi sehingga energi listrik dapat dihemat dengan tenaga surya," katanya.

Bertani di pekarangan, tambahnya, dapat melahirkan sentra pertanian di perkotaan bila dilakukan komunal.

Di Bondowoso, Jawa Timur, tukang sayur keliling bukan menjual sayur ke kompleks perumahan. Tukang sayur justru membeli ke komunitas pertanian pekarangan organik di komplek tersebut.

Tri Nandar Wihendar, teknisi yang turut mengerjakan teknologi irigasi cerdas, menyampaikan bahwa bertani di pekarangan banyak diminati ibu-ibu perkotaan yang sibuk, karena dengan penerapan teknologi terkini dapat membantu memudahkan.

"Kita bisa rancang pertanian di pekarangan secara otomatis. Pertumbuhan tanaman bahkan bisa dimonitor dengan kamera," katanya.

Bertani di pekarangan juga dapat dikombinasikan dengan beternak ikan seperti yang dilakukan Koko Kusumah, pegiat pertanian pekarangan, dengan memanfaatkan pekarangan untuk budi daya ikan lele dengan sistem bioflok.

Dengan bertani dan beternak ikan di pekarangan, tambahnya, pasokan pangan rumah tangga dapat dipenuhi secara mandiri sehingga sangat mendukung upaya pemerintah untuk mewujudkan kedaulatan pangan pada era pandemi.

Baca juga: Balitbangtan siap tingkatkan kualitas produk kayu manis
Baca juga: Tanaman hias inovasi Balitbangtan dikoleksi agrowisata Tabanan

Pewarta: Subagyo
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Agar petani di lahan kering Bantul bisa bercocok tanam sepanjang tahun

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar