Red Fort di Old Delhi dibuka meski kasus corona meningkat

Red Fort di Old Delhi dibuka meski kasus corona meningkat

Tentara India berjaga di depan bendera nasional tiga warna India saat gladi bersih peringatan Hari Kemerdekaan India di Red Fort bersejarah di Delhi, India, Kamis (13/8). (REUTERS/Adnan Abidi )

Seluruh monumen dan situs yang dilindungi secara sentral dibatasi protokol kesehatan seperti sanitasi, jaga jarak, dan aturan kesehatan lainnya,
New Delhi (ANTARA) - Situs bersejarah  Red Fort yang dirancang oleh arsitek Ahmad Lahauri  yang terletak di kawasan Old Delhi, India, dibuka untuk wisatawan  meskipun kasus positif  virus corona di negara itu terus naik.

Pembukaan kembali situs itu dilakukan pemerintah India bersamaan dengan pencabutan larangan mengunjungi  bangunan bersejarah abad ke-17, Taj Mahal, untuk wisatawan setelah tutup selama tiga bulan akibat pandemi COVID-19.

Otoritas setempat mewajibkan seluruh pengunjung memakai masker, menjaga jarak, dan tidak menyentuh permukaan dan lantai gedung.

Dari segi kemasyhuran, Red Fort masih kalah dibandingkan dengan Taj Mahal yang sama-sama dibangun oleh Sultan  Shan Jahan di bawah imperium Mughal.

Baca juga: Kasus harian COVID-19 India capai 22.000, diiringi hujan muson
Baca juga: India tutup Taj Mahal agar tak perluas sebaran corona
Baca juga: Taj Mahal batasi jumlah pengunjung harian


Selama pandemi, Taj Mahal hanya menerima 5.000 wisatawan per harinya. Wisatawan yang datang akan dibagi dalam dua kelompok. Biasanya, Taj Mahal dikunjungi oleh 80.000 wisatawan per hari.

Taj Mahal merupakan makam yang dibangun di Kota Agra oleh Kaisar Mughal Shah Jahan untuk mengenang istrinya. Makam itu dibangun selama 22 tahun.

"Seluruh monumen dan situs yang dilindungi secara sentral dibatasi protokol kesehatan seperti sanitasi, jaga jarak, dan aturan kesehatan lainnya," kata Kementerian Pariwisata Federal lewat unggahannya di Twitter.

Kementerian Kesehatan per Minggu mengumumkan 24.850 kasus baru, rekor terbaru dalam kasus harian, dan lebih dari 600 korban jiwa. Dengan demikian, keseluruhan kasus positif COVID-19 di India mencapai 673.165.

India masih menempati urutan keempat untuk kasus positif terbanyak dunia atau tepat di bawah Rusia yang berada di urutan ketiga.

Meskipun kasus positif masih tinggi, pemerintah tetap mencabut status karantina di India, negara dengan populasi 1,3 miliar  jiwa. Karantina yang sempat diberlakukan di India menyebabkan puluhan ribu orang kehilangan pekerjaan dan membuat banyak usaha gulung tikar.

Walaupun demikian, penerbangan internasional masih belum boleh beroperasi. Namun, penerbangan dalam negeri telah kembali buka. Pemerintah berharap kunjungan wisata dapat mengaktifkan kembali beberapa destinasi wisata yang populer di India.

Agra, salah satu klaster pertama untuk penyebaran COVID-19 di India, masih jadi kota di Uttar Pradesh yang paling terdampak wabah. Uttar Pradesh merupakan negara bagian dengan jumlah penduduk terbanyak di India.

"Seluruh wilayah Taj merupakan zona pengendalian virus," kata seorang pejabat setempat yang meminta tidak disebut namanya. Ia menyampaikan keterangan itu jelang pembukaan Taj Mahal.

Zona pengendalian merupakan area yang paling terdampak COVID-19. Pemerintah India masih memberlakukan karantina di daerah tersebut, tetapi pengiriman barang dan jasa tetap diperbolehkan.

"Kami tidak menghendaki adanya pengunjung di sini karena daerah di sekitar Taj, termasuk pertokoan dan hotel masih tutup," kata pejabat itu.

Sumber: Reuters

Baca juga: Turis hindari Taj Mahal akibat merebaknya protes di India
Baca juga: Pasangan Lesbian Swedia "Menikah" di Taj Mahal

​​​​​​​

Penerjemah: Genta Tenri Mawangi
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

India buka 3700 obyek wisata, meski kasus COVID-19 dekati 700.000

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar