Banda Aceh (ANTARA News) - Harimau Sumatra (Panthera Tigris Sumatrae) yang dirawat di Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Provinsi Aceh mati saat operasi karena kondisi kritis.

Harimau betina yang terluka akibat perangkap babi itu mati saat tim dokter dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala melakukan operasi membersihkan luka di kaki belakang harimau itu di Banda Aceh, Senin.

Operasi kecil yang berlangsung sekitar dua jam itu dilakukan tim dokter di atas mobil operasional BKSDA karena alasan kondisi Harimau yang lemah tidak memungkinkan untuk dipindahkan.

Harimau asal Kabupaten Aceh Selatan itu tertangkap masyarakat di kawasan Desa Jambo Apha Rabu (21/10). Saat ditangkap kondisinya memang sudah lemah.

Selama sepekan harimau berkeliaran di permukiman warga untuk memangsa ternak. Harimau itu mengalami luka jerat perangkap babi di kaki kanan depan dan luka yang belum diketahui penyebabnya di kaki kanan belakang.

Harimau tersebut kemudian ditangani BKSDA Provinsi Aceh di Banda Aceh pada Sabtu (24/10) untuk mendapatkan perawatan intensif.

Sebelumnya BKSDA dan tim dokter hewan maupun pemda sepakat untuk memulihkan kondisi harimau sebelum mengamputasi kaki kanan depan yang mengalami luka serius.

Dikhawatirkan dengan kondisinya yang lemah tidak memungkinkan untuk dibius untuk operasi sehingga menunggu kondisi pulih dulu, namun sesaat setelah pembersihan luka di kaki belakang, harimau itu mati.

"Kondisinya sangat lemah sehingga tidak memungkinkan untuk dilakukan amputasi. Tapi untuk menyelamatkan kaki depannya memang tidak mungkin," kata Munawar Kholis, dokter hewan dari Wildlife Conservation Society (WCS).

Menurut Munawar, selama di rawat, harimau yang memiliki panjang tubuh mencapai 130 cm dan tinggi 90 cm itu mendapatkan 14 botol infus karena terlalu lemah untuk makan.(*)

Pewarta:
Editor: Aditia Maruli Radja
Copyright © ANTARA 2009