Periode Januari-Juni 2020, kasus DBD Riau mencapai 2.419 kasus

Periode Januari-Juni 2020, kasus DBD Riau mencapai 2.419 kasus

FOTO ARSIP - Seorang anak yang terjangkit penyakit demam berdarah dengue (DBD) mendapat perawatan intensif tenaga medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dumai di Kota Dumai, Riau, Rabu (27/11/2019). ANTARA FOTO/Aswaddy Hamid/ama.

Dari 2.419 kasus DBD itu sebanyak 20 orang meninggal dunia
Provinsi Riau (ANTARA) - Dinas Kesehatan Riau menyatakan bahwa sejak Januari hingga Juni 2020 penyakit demam berdarah dengue (DBD) di provinsi itu telah mencapai sebanyak 2.419 kasus sehingga imbauan kepada masyarakat agar selalu menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) terus digencarakan.

"Dari 2.419 kasus DBD itu sebanyak 20 orang meninggal dunia atau 34,7 persen dari 100 ribu penduduk," kata Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Provinsi Riau Hj Mimi Yulianti Nazir, di Pekanbaru, Senin.

Menurut dia selama periode Januari-Juni 2020, Kota Pekanbaru tercatat memiliki kasus terbanyak DBD, yakni mencapai 417 dan meninggal dua orang.

Menyusul kasus terbanyak kedua yakni Kabupaten Kampar 214 kasus dan meninggal dua, di Kabupaten Rokan Hulu sebanyak 119 dan meninggal seorang, sedangkan di Kabupaten Pelalawan dengan 139 penderita, meninggal nihil atau belum ada laporan.

Selain itu, katanya, warga terjangkit DBD di Kabupaten Inderagiri Hulu (Inhu) tercatat sebanyak 160 orang dan meninggal seorang, di Kabupaten Kuantan Singingi sebanyak 193 orang dan meninggal dua, di Kabupaten Inderagiri Hilir (Inhil) terdapat 28 kasus dan meninggal dua, di Kabupaten Bengkalis sebanyak 472 penderita dan meninggal sebanyak enam orang.

Berikutnya, di Kota Dumai satu pasien DBD meninggal dan 316 lainnya terjangkit DBD, di Kabupaten Siak sebanyak 236 penderita dan meninggal dua orang. Di Kabupaten Rokan Hilir tercatat sebanyak 25 penderita dan kasus meninggal nol, serta di Kabupaten Kepulauan Meranti sebanyak 100 kasus dan meninggal satu orang.

Ia mengatakan DBD merupakan persoalan lingkungan, sehingga partisipasi masyarakat menjaga lingkungan sangat diperlukan, seperti menata lingkungan agar nyamuk aedes aegypti tidak bertelur.

Selain itu, peran puskesmas di masyarakat harus terus dimaksimalkan dan warga diajak supaya ikut membersihkan lingkungan bersama denga melakukan gerakan menguras, menutup, dan mengubur (3M) plus, demikian Mimi Yulianti Nazir.


Baca juga: 238 warga Pekanbaru terserang DBD hingga pertengahan Maret

Baca juga: 50 warga Riau meninggal akibat DBD

Baca juga: 422 warga Kota Pekanbaru terserang DBD, 5 meninggal dunia

Pewarta: Frislidia
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Jumlah kasus DBD di Pandeglang mencapai 439 kasus

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar