Doni Monardo: Bencana peristiwa berulang termasuk pandemi

Doni Monardo: Bencana peristiwa berulang termasuk pandemi

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Doni Monardo berbicara dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta. ANTARA/HUMAS BNPB/Dume Sinaga/pri. (ANTARA/HUMAS BNPB/Dume Sinaga)

Frasa apa yang bisa digunakan agar masyarakat paham bahwa pandemi belum berakhir
Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)/Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Doni Monardo mengatakan bencana adalah peristiwa yang berulang, termasuk pandemi yang termasuk sebagai kejadian bencana nonalam.

"Pandemi juga pernah terjadi di Indonesia 100 tahun lalu, ketika masa kolonial Belanda, yaitu Flu Spanyol," kata Doni dalam rapat kerja bersama Komisi VIII DPR yang diikuti melalui siaran langsung TVR Parlemen di Jakarta,  Senin.

Doni mengatakan pandemi Flu Spanyol 100 tahun lalu menyebabkan korban jiwa 4,5 juta jiwa. Pemerintah kolonial Hindia Belanda pun berupaya melakukan sosialisasi kepada masyarakat pendudukan agar penularan Flu Spanyol bisa ditekan.

Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah kolonial saat itu adalah sosialisasi menggunakan pendekatan kearifan lokal, antara lain melalui wayang kulit.

Baca juga: Doni Monardo: COVID-19 bukan rekayasa atau konspirasi

Baca juga: Pengamat: Penerapan normal baru cegah bencana selanjutnya


Menurut Doni, pendekatan yang serupa juga telah diusung Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 sejak awal pandemi COVID-19 dengan menggunakan pendekatan pentahelix berbasis komunitas dengan kearifan lokal dan bahasa yang dapat mudah dipahami masyarakat.

"Bagaimana menjelaskan kepada masyarakat, istilah-istilah asing yang tidak mudah dimengerti seperti new normal, social distancing, physical distancing, dan lain-lain? Kami mengajak dan mengimbau para pemimpin di daerah untuk menggunakan kata-kata yang mudah dimengerti. Yang penting maksud dan tujuan dipahami," tuturnya.

Sebelumnya, Ketua Komisi VIII DPR Yandri Susanto mengatakan Komisi VIII DPR sepakat bahwa istilah new normal atau normal baru sudah tidak bisa lagi dipakai untuk sosialisasi protokol kesehatan dalam menghadapi pandemi COVID-19.

"Itu istilah asing yang betul-betul asing bagi rakyat. Frasa apa yang bisa digunakan agar masyarakat paham bahwa pandemi ini belum berakhir dan risikonya masih tetap tinggi?" katanya. 

Baca juga: Ketika pandemi, saatnya rumah sakit Jakarta tingkatkan layanan

Baca juga: BSSN bangun edukasi budaya keamanan informasi pada masa pandemi COVID

 

Pewarta: Dewanto Samodro
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020

MPR optimistis pemerintah mampu atasi pandemi COVID-19 dan keterpurukan ekonomi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar