Ketika pandemi, saatnya rumah sakit Jakarta tingkatkan layanan

Ketika pandemi, saatnya rumah sakit Jakarta tingkatkan layanan

Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (9/10/2019). (ANTARA/Livia Kristianti/aa).

potensi kehilangan devisa di bidang wisata medis (medical tourism) sangat besar
Jakarta (ANTARA) - Direktur Indonesia Medical Tourism Board (IMTB), Yudiyantho mengatakan wabah COVID-19 harus menjadi momentum bagi rumah sakit di Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia untuk meningkatkan layanan agar tidak kalah dengan luar negeri.

"Kondisi wabah seperti sekarang ini sejumlah negara termasuk Singapura melarang pasien baru datang berobat ke rumah sakit sehingga ini bisa menjadi momentum bagi rumah sakit untuk meningkatkan standar layanan," katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin.

Ia mengatakan banyak rumah sakit di Indonesia yang sebenarnya sudah mengantongi akreditasi internasional serta mendapat pengakuan oleh lembaga internasional untuk mutu pelayanan kesehatan.

"Ada beberapa di Jakarta seperti Jakarta Eye Center, Morula IVF, dan RSPAD Gatot Subroto, serta beberapa lainnya termasuk di daerah. Rumah sakit-rumah sakit ini mampu bersaing dengan yang ada di Malaysia dan Singapura," katanya.

"Seharusnya dengan banyaknya rumah sakit memiliki mutu dan layanan setara negara maju, masyarakat tidak perlu lagi berobat ke luar negeri, seperti ke Malaysia, Singapura, atau Australia,” ujarnya.

“Di tengah pandemi COVID-19 ini justru merupakan peluang besar bagi penyedia layanan kesehatan di Indonesia untuk dapat memberikan layanan kesehatan bagi yang terbiasa melakukan perjalanan wisata medis ke luar negeri”, ujarnya lagi.

Yudiyantho mengatakan, berdasarkan data yang dirilis Indonesia Services Dialog (ISD), setiap tahun setidaknya orang Indonesia mengeluarkan uang Rp100 triliun untuk mendapatkan pelayanan kesehatan di luar negeri.

Menurutnya, masih dari survei yang sama, jumlah orang Indonesia yang berobat ke luar negeri mengalami peningkatan hampir 100 persen selama 10 tahun terakhir. Jika di tahun 2006 terdapat 350 ribu orang pasien, tahun 2015 melonjak menjadi 600 ribu pasien.

“Artinya, potensi kehilangan devisa di bidang wisata medis (medical tourism) sangat besar, ” kata dia.

Untuk merebut momen tersebut, Yudiyantho mengatakan seluruh pemangku kepentingan wisata medis Indonesia harus bekerjasama untuk merebut pasar domestik dengan dengan tujuan yang sama.

”Kunci merebut pasar domestik adalah edukasi dan promosi kepada masyarakat Indonesia. Kita tunjukkan bahwa kualitas dan layanan kesehatan Indonesia sangat baik,” tegasnya.

Namun, dia menambahkan, dalam hal menyediakan layanan kesehatan prima dan mengembangkan wisata medis di Indonesia, semua pemegang kepentingan sebaiknya dapat mengeluarkan kebijakan yang bisa mendukung program wisata medis dalam negeri.

"Tentu saja semua ini akan bisa berjalan dengan baik dengan adanya dukungan penuh pemerintah terutama dari Kementerian Kesehatan, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan juga BUMN terkait. Dengan begitu sinergi akan terbentuk dengan membantu promosi secara beriringan dengan pihak swasta sehingga Indonesia dapat bersaing dalam kancah wisata medis dunia,” kata dia.

Baca juga: Bio Farma-RSPAD berkolaborasi dalam terapi tambahan pasien COVID-19
Baca juga: KSAD pantau distribusi logistik Persit untuk para medis di RSPAD

Pewarta: Ganet Dirgantara
Editor: Edy Sujatmiko
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar