PBB (ANTARA News) - Polisi sedang menyelidiki sejumlah surat yang memuat bubuk putih yang dikirim ke lima misi PBB di kota New York, tapi beberapa diplomat dari negara-negara yang terkait mengatakan Selasa bahwa material itu tidak berbahaya.

Misi PBB dari Austria, Prancis, Jerman dan Uzbekistan telah menerima surat dengan bubuk putih tak dikenal, Senin, seperti dilaporkan Reuters.

Misi Inggris untuk PBB di Manhattan juga menerima surat yang memuat bubuk putih pada Selasa dan pihak yang berwenang telah mendisinfeksikan kantor tempat bubuk putih itu ditemukan, seorang diplomat Inggris di New York menyatakan pada Reuters.

Departemen Polisi New York mengatakan bahwa pihaknya telah mendisinfeksikan atau membebaskan dari kuman 40 orang sebagai tindakan berjaga-jaga.

"Materal itu sedang diuji oleh pihak yang berwenang, dan penemuan awal yang kami terima adalah bahwa itu tidak berbahaya," Duta Besar Austria untuk PBB Thomas Mayr-Harting mengatakan di markasbesar PBB.

Pemerintah AS telah bersiap siaga menghadapi surat dengan bubuk putih sejak 2001, ketika sejumlah amplop yang disusuri dengan bubuk anthrak dikirim ke outlet media dan anggota parlemen AS, yang menewaskan lima orang.

Dubes Prancis Gerard Araud mengatakan pendisinfeksian misinya berlangsung hingga setelah pukul 3 waktu setempat (pukul 8 GMT). Ia menyatakan surat itu diberi cap pos di Dallas, seperti surat yang diterima oleh misi Austria dan Jerman.

Belum jelas asal dua surat lainnya. Para pejabat di misi Jerman dan Uzbekistan mengatakan operasi telah kembali normal di kantor mereka dan orang yang membuka surat itu sudah kembali bekerja.

Mayr-Harting menolak mengomentari mengenai muatan surat yang disertai dengan bubuk putih itu. Seorang jurubicara polisi juga menyatakan ia tidak dapat mengkonfirmasi laporan media bahwa surat-surat itu menunjuk pada al Qaida.

Para Pejabat Prancis, Jerman dan Austria mengatakan mereka tidak memiliki gagasan mengapa misi mereka telah dijadikan sasaran. Seorang pejabat kedutaan besar Uzbekistan juga tidak memberikan perincian.(*)

Pewarta:
Editor: Aditia Maruli Radja
Copyright © ANTARA 2009