Artikel

UKM Karolina coba bertahan di tengah pandemi

Oleh Bernadus Tokan

UKM Karolina coba bertahan di tengah pandemi

Pemilik Karolina Yunita Yalla-Liwulangi (kiri) bersama YouTuber terkenal di Korea Kimbap family pada Festival Indonesia di Seoul, Korea Selatan September 2019. (ANTARA/HO-Istimewa)

Kupang (ANTARA) - Jam dinding di toko Ensikei (Nita's Collections Kupang) yang terletak di bilangan Kota Baru Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu, telah menunjukkan pukul 17.16 WITA. Tak ada hiruk pikuk pengunjung di dalam toko berukuran sekitar 4-6 meter persegi itu.

Di dalam toko kecil itu, ada empat orang wanita paruh baya sedang sibuk membuat kerajinan tangan dari kain tenun seperti gelang tangan, anting, kalung, tas dan baju tenun sambil berharap dikunjungi pembeli.

"Kami kira ada pembeli yang datang mengunjungi toko kami, karena selama sepekan terakhir ini, belum ada pengunjung yang datang untuk berbelanja," kata pemilik UKM Ensikei, Karolina Yunita Yalla-Liwulangi.

Dia menuturkan selama pandemi COVID-19 ini, usahanya bisa dibilang macet total. Omset penjualan semua produk terjun bebas hingga ke titik terendah.

Sebelum pandemi, kata Karolina, omset penjualan dari usaha mandiri dengan empat karyawan itu, bisa mencapai 10-15 juta sebulan.

Namun, ketika pandemi COVID-19 mulai merebak, sejak Maret hingga Juli 2020 ini, pendapatan dari usaha ini bisa dibilang nol rupiah.

Baca juga: UMKM NTT binaan PLN ikut Festival Indonesia di Korea Selatan


Jual obral

Perintis Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) SMART Learning Center Kupang itu menambahkan, sempat mengalihkan usahanya untuk mengikuti keinginan pasar dan mengobral barang-barang jualan, agar bisa bertahan hidup.

"Saya sempat banting stir untuk menjahit masker kain karena permintaan masker meningkat selama pandemi, dan membuat minyak VCO (virgin coconut oil) supaya ada pemasukan, agar usaha bisa tetap jalan," katanya.

Selain menyiapkan produk baru berupa masker dan minyak VCO, semua produk diobral dengan harga murah hanya untuk menarik pembeli.
 
Produk perhiasan dari kain tenun UMK Ensikei (ANTARA/Bernadus Tokan)


"Sampai saat ini banyak produk yang kami masih obral, mulai dari anting-anting sampai dengan produk-produk kain tenun ikat," katanya.

Ibu tiga anak itu mengatakan, kain tenun yang biasanya dijual dengan harga Rp2,5 juta per helai saat ini diobral dengan harga Rp2,3 per helai.

Anting-anting tenun dan anting-anting import dari sebelumnya dijual dengan harga Rp50 ribu, diobral jadi Rp35 ribu, dan anting-anting biasa dari Rp25 ribu menjadi Rp10 ribu.

Sementara untuk baju sepenuhnya tenun ikat lengan panjang laki-laki dari Rp400 ribu diobral menjadi Rp 300 ribu, baju kemeja tenun dari Rp 350 ribu menjadi Rp250 ribu.

Namun, berbagai upaya untuk menarik minat pembeli mulai dari mengobral barang dagangan, dan membuat produk baru sesuai selera pasar belum juga mampu meningkatkan pendapatan usaha karena sepinya minat pembeli.

Baca juga: Ribuan UMKM di NTT terdampak COVID-19


Jualan via online

Dia mengaku baru mendapat pinjaman tambahan modal untuk membuka kembali toko, sekaligus memulai melakukan penjualan secara online.

"Saya sementara berjualan online lewat Instagram @ensikei.tenun. Jualan juga lewat status WA 081246341834 dan
juga lewat Facebook Nita Liwulangi," katanya.

Saat ini juga, Karolina mengaku sedang mengikuti pelatihan kelas online yang digelar Bank Indonesia (BI), Dekranasda dan Dinas Koperasi NTT.

"Dan masih banyak kelas online yang saya ikuti. Saya belajar cara foto produk dan copywriting, juga cara jualan di instagram," katanya menjelaskan.

Baca juga: BI NTT dorong UMKM bertransaksi secara daring


Mengawali usaha

"Ini usaha mandiri saya sendiri. Kalau pekerja tetap sekarang sudah empat orang termasuk saya. Bidang usaha, produksi asesoris tenun, juga jual kain tenun, baju tenun, tas tenun dan lainnya," katanya.

Jebolan La Trobe University, Melbourne, Australia dengan gelar Master of TESOL tahun 2013 itu mengisahkan, usaha ini di mulai saat dirinya resign (berhenti) dari dosen tetap pada sebuah perguruan tinggi swasta di NTT pada akhir 2017 lalu.

"Awal tahun 2018, saya mulai membuat anting-anting dari kawat dan manik-manik. Saya jualan lewat Facebook waktu itu," kata Karolina.

Seiring berjalannya waktu, penjualan hasil karya tangan ini terus mengalami peningkatan. Banyak pelanggan bahkan mulai meminta dirinya untuk membuat anting dari bahan tenun ikat.
 
Karyawan Ensikei sedang mengerjakan asesoris dari tenun (ANTARA/Bernadus Tokan)


"Saya kemudian belajar cara membuat anting, lalu kalung dan gelang dari kain tenun ikat, yang banyak diminati pembeli," katanya.

Pada akhir 2018, Karolina bergabung dalam program pusat layanan usaha terpadu (PLUT), dan mendaftarkan UKM dengan nàma Nita's Collections Kupang, atau lebih dikenal sebagai Ensikei.

Pada Maret 2019, Karolina atau biasa disapa Ibu Nita itu pertama kali mengikuti festival sarung tenun ikat NTT di Kupang.

Sejak festival itulah, Karolina dan nama usahanya Ensikei semakin dikenal secara luas di kalangan masyarakat.

Setelah mengikuti festival sarung tenun ikat, Karolina mengikut Expo UMKM millennial di Lippo Plasa Kupang dan ikut mengisi acara mode di TVRI sebagai narasumber dan sejak saat itu Ensukei semakin dikenal lagi.

Pada pertengahan tahun 2019, dia diajak menjadi mitra Binaan PT PLN unit wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).

Ajakan ini merupakan satu batu loncatan besar buat Ensikei, karena pada bulan September 2019, Karolina diajak mengikuti Festival Indonesia di Seoul, Korea Selatan, dan bulan berikutnya mengikuti pameran di Kantor PLN pusat, Jakarta.

"Awalnya, semua produksi saya kerjakan sendiri, namun puji Tuhan, sekarang sudah ada yang membantu, terutama jika ada banyak pesanan. Untuk sejauh ini sudah ada empat orang pekerja, termasuk saya," ujar Karolina.

Dan kini barang-barang yang di pajang di Toko Ensikei saat ini, tidak semuanya merupakan produksi sendiri, tetapi banyak yang merupakan hasil dari pengrajin lainnya.

Baca juga: BI dorong pelaku UMKM NTT mulai mengakses pasar digital


Beban pinjaman

Kini usaha yang digelutinya sedang dibebani bunga pinjaman dari bank dan juga PLN yang sudah menjadi mitra binaan Ensikei.

"Saya sementara fokus bagaimana caranya bisa membayar pinjaman di Bank dan PLN. Jadi kalau tambah pinjaman lagi, saya rasa itu bukan cara yang tepat," katanya terkait program pinjaman tanpa bunga yang diluncurkan Pemerintah NTT untuk membantu UMKM.

Menurut dia, yang harus dia lakukan sekarang adalah menambah penjualan, bukan menambah pinjaman karena menambah pinjaman memang bisa membantu memenuhi kebutuhan jangka pendek.
Karolina (tengah) bersama suaminya sedang membuat asesoris (ANTARA/Bernadus Tokan)


"Tetapi saya pribadi, yang saya butuhkan adalah menambah penjualan/penghasilan sehingga bisa membayar pinjaman," katanya.

Karolina hanya berharap pemerintah dapat membantu membuka pasar atau kesempatan bagi usaha mikro kecil menengah (UMKM) agar berjualan.

"Kalau memang CFD atau pameran tidak bisa dibuka, tolong buka pameran daring yang bisa diakses oleh masyarakat seluruh Indonesia," kata pengajar pada program English Language Tranining Assistance (ELTA) di Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang itu.

Bagi Karolina, memberi pinjaman sama dengan menambah beban. Tetapi kalau membeli produk kami, baru bisa membantu kami keluar dari kesulitan yang sedang kami hadapi.*

Oleh Bernadus Tokan
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Gempa bumi magnitudo 6,9 dan 5,0 guncang Larantuka NTT

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar