Surabaya (ANTARA News) - Ketua Dewan Pendidikan Provinsi Jawa Timur,Prof. Dr Zainuddin Maliki, MSi mengatakan Ujian Nasional (Unas) mempunyai banyak kelemahan karena hanya mengukur tingkat kecerdasaan otak saja.

Menurut dia di Surabaya, Jumat, untuk mengukur kemampuan anak tidak hanya dilihat dari kecerdasannya, tapi justru prestasi-prestasi dan pengalaman yang pernah diraih di Sekolah Menengah Atas.

"Jika ingin melihat kemampuan siswa, bukan dilakukan dengan Unas, tapi membuat semacam portofolio yang berisi catatan pengalaman atau prestasi yang pernah diraih," katanya.

Portofolio bisa digunakan untuk memetakan kemampuan siswa seusai dengan bakat dan kemampuannya masing-masing.

Selain itu, untuk memetakan kemampuan siswa, bukan standar kelulusan yang harus dibebankan, namun justru grade atau nilai tertinggi yang didapat dari mata pelajaran yang diujikan.

"Jika ada siswa yang nilai Unasnya tinggi semua, maka dia bisa masuk kualifikasi sangat bagus, yang nantinya akan diarahkan ke Fakultas Kedokteran," katanya.

Namun, jika nilai Unas bagus, maka akan dipilih mata pelajaran yang paling tinggi nilainya untuk menempatkan jurusan sesuai dengan mata pelajaran tertinggi.

"Siswa yang nilai Unas bagus, dia bisa masuk ke jurusan ilmu pengetahuan alam atau teknik,sesuai dengan nilai yang paling tinggi dari mata pelajarannya" katanya.

Sedang untuk nilai rendah atau kurang bagus, jurusan siap kerja, seperti politeknik dan diploma bisa menjadi alternatif pilihannya.

"Bagi mereka yang akan mengambil diploma atau politeknik, setelah mereka mendapatkan pengalaman kerja, maka akan mempunyai nilai tambah untuk meningkatkan karirnya," katanya.

Ia menambahkan jika, proses kelulusan dilakukan dengan cara seperti itu, maka siswa akan sungguh-sungguh belajar dan bukan karena takut tidak lulus.

Sementara itu, dewan pendidikan menganggap bentuk Ujian nasional yang selama ini diterapkan merupakan ketidak percayaan pemerintah khususnya guru dan siswanya sendiri.(*)

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2009