Tokyo (ANTARA News) - Dolar bertahan di terendah 14 tahun terhadap yen di perdagangan Asia, Senin, menjelang data ekonomi AS yang dapat meningkatkan kekhawatiran baru tentang pertumbuhan di ekonomi terkemuka dunia.

Pasar juga menunggu keputusan suku bunga di Eropa dan Australia akhir pekan ini.

Dolar datar di 86,74 yen pada perdagangan pagi di Tokyo dari di New York akhir Jumat, naik dari titik nadir 84,82 yen minggu lalu. Euro jatuh ke 1,4959 dolar dari 1,4995 dolar, namun naik tipis menjadi 130,08 yen dari 129,76 yen.

Para pemain uang sudah menguatkan diri untuk data ekonomi AS minggu ini yang bisa menempatkan tekanan baru pada dolar, kata para dealer.

Data Pengeluaran pabrik dan konstruksi akan keluar pada Selasa, diikuti oleh Beige Book kondisi ekonomi padaRabu, dan laporan bulanan utama pengangguran pada Jumat.

"Data pekan ini di Amerika Serikat tidak mungkin membantu meredakan kekhawatiran pertumbuhan ... (Mereka) akan mengintensifkan bukan mengurangi," kata analis Calyon, Mitul Kotecha, yang memperkirakan tingkat pengangguran tetap di atas 10 persen.

Yen kemungkinan kembali menguji batas sisi atas 14-tahun setelah Menteri Keuangan Jepang Hirohisa Fujii pada hari Minggu mengatakan intervensi mata uang sekarang "sangat tidak masuk akal."

Komentar meremehkan seruan yang dibuat pekan lalu oleh pejabat senior pemerintah untuk langkah-langkah aktif guna mengekang kenaikan cepat unit Jepang, yang melukai eksportir dan meningkatkan kekhawatiran dari sebuah spiral deflasi dalam negeri.

Sementara euro terus terpukul terhadap dolar di tengah berlangsungnya kekhawatiran eksposur bank-bank Eropa ke Dubai, dan jelang keputusan tingkat suku bunga oleh Bank Sentral Eropa (ECB) pada Kamis.

Bank sentral diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pinjaman utamanya tidak berubah pada 1,0 persen, dan kemungkinan akan menaikkan perkiraan pertumbuhan untuk 2010 di zona euro, kata para dealer.

Investor akan meneliti pidato oleh gubernur Jean-Claude Trichet pascapertemuan tentang jadwal keluar untuk langkah-langkah stimulus bank yang diletakkan guna menopang pertumbuhan setelah tahun lalu pasar keuangan mengalami kekacauan.

Pasar juga mengamati apakah Reserve Bank of Australia (Bank Sentral Australia) akan menaikkan suku bunga lagi ketika bertemu pada Selasa, setelah mereka menaikkan suku bunga dua kali berturut-turut sejak Oktober.(*)

Pewarta:
Editor: Aditia Maruli Radja
Copyright © ANTARA 2009