Palu (ANTARA News) - Target pasar produk gas alam cair (Liquid Natural Gas/LNG) Senoro, Sulawesi Tengah, hingga kini belum diputuskan, apakah untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri atau diekspor.

"Sekarang sudah sampai ke RI satu (Presiden). Tergantung kebijakan Pak Presiden. Tapi sampai hari ini belum ada jawaban dari beliau apakah untuk ekspor atau untuk memenuhi kebutuhan domestik," kata Kepala Humas Join Operation Body (JOB) Pertamina-Medco E&P Tomori Sulawesi, Abdul Rahman Susilo, usai menyerahkan bantuan korban bencana alam Kabupaten Tolitoli di Palu, Senin.

Dia mengatakan, meski belum ada keputusan dari Presiden, tidak menghalangi langkah JOB Pertamina-Medco E&P Tomori Sulawesi (PMTS) untuk melakukan eksplorasi terhadap potensi gas alam cair dan minyak bumi di Blok Senoro-Toili tersebut.

"Kami tidak terpengaruh sehingga sampai sekarang kami tetap berproduksi. Kita tinggal mau pasang pipanya saja. Tapi belum bisa dilakukan apakah disalurkan ke kilang PT. DSLNG (Donggi Senoro Liguid Natural Gas) atau PLN," jelas Susilo.

Dia mengatakan, Badan Pelaksana Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) sedang melakukan negosiasi harga dengan PT. PLN sebagai calon pembeli dalam negeri.

Jika nantinya Kepala Negara memutuskan LNG Senoro untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri, BP Migas sudah memiliki standar harga jual dalam negeri.

"Terkait dengan berapa harga per barel atau per-MMBTU, itu sepenuhnya menjadi kewenangan BP Migas," katanya.

Ketika ditanya bagaimana dengan PT DSLN, Susilo mengatakan, dirinya tidak punya kewenangan untuk memberikan komentar terhadap konsorsium Mitsubishi Corporation, PT Pertamina EP, dan PT Medco Energi International tersebut.

"Tugas saya hanya sebatas JOB Pertamina-Medco. Soal DSLN saya tidak tahu sudah sejauh mana negosiasinya," katanya.

Informasi yang dihimpun melalui anggota DPRD Banggai belum lama ini menyebutkan, PT DSLN tetap membangun kilang mini LNG Senoro yang dijadwalkan mulai beroperasi pada akhir 2009 ini.

Pasokan gas akan diambil dari dua blok yakni Senoro-Toili, perbatasan Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara dan Donggi dengan total cadangan 2,3 triliun kaki kubik.

Blok Senoro-Toili dimiliki Medco Energi bersama Pertamina dengan porsi masing-masing 50 persen sedangkan Blok Donggi sepenuhnya dipegang Pertamina. (*)

Pewarta:
Editor: Bambang
Copyright © ANTARA 2009