BPS: Penurunan konsumsi rumah tangga picu kontraksi triwulan II 2020

BPS: Penurunan konsumsi rumah tangga picu kontraksi triwulan II 2020

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto. ANTARA/HO-Humas BPS/pri.

Dari kelompok pengeluaran, konsumsi rumah tangga menjadi sumber kontraksi tertinggi dengan tumbuh negatif 5,51 persen pada triwulan II 2020
Jakarta (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penurunan kinerja konsumsi rumah tangga menjadi pemicu utama kontraksi ekonomi Indonesia pada triwulan II 2020 sebesar minus 5,32 persen.

"Dari kelompok pengeluaran, konsumsi rumah tangga menjadi sumber kontraksi tertinggi dengan tumbuh negatif 5,51 persen pada triwulan II 2020," kata Kepala BPS Suhariyanto dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu.

Baca juga: BPS catat hampir seluruh lapangan usaha terkontraksi triwulan II 2020

Suhariyanto mengatakan lesunya kinerja konsumsi tersebut terlihat dari penjualan eceran yang mengalami kontraksi pada seluruh kelompok penjualan, antara lain makanan, minuman dan tembakau yang minus 0,71 persen.

Kelompok lainnya yang ikut tumbuh negatif adalah pakaian, alas kaki dan jasa perawatan minus 5,13 persen, transportasi dan komunikasi minus 15,33 persen serta restoran dan hotel minus 16,53 persen.

"Hampir seluruhnya mengalami kontraksi, mulai dari penjualan mobil penumpang dan sepeda motor, jumlah penumpang rel, laut dan udara, hingga nilai transaksi uang elektronik, kartu debit dan kartu kredit," ujarnya.

Kelompok pengeluaran lainnya yang juga mengalami kontraksi adalah pembentukan modal tetap bruto (PMTB), yang merupakan komponen investasi, dengan tumbuh negatif 8,61 persen.

"Komponen pembentuk PMTB seperti bangunan, mesin dan perlengkapan, kendaraan, perlengkapan lainnya dan CBR semuanya mengalami pertumbuhan negatif pada triwulan II 2020," katanya.

Dalam periode ini, konsumsi pemerintah juga terkontraksi 6,9 persen, ekspor barang dan jasa tumbuh minus 11,66 persen serta impor barang dan jasa tumbuh negatif 16,96 persen.

Lesunya konsumsi pemerintah disebabkan oleh turunnya realisasi belanja barang dan jasa serta pegawai karena adanya penundaan kegiatan kementerian dan lembaga (K/L) serta perubahan kebijakan pemberian THR yang tidak melibatkan pejabat negara dan eselon 1 dan 2.

Sementara itu, ekspor terdampak oleh penurunan volume dan nilai komoditas ekspor bahan bakar mineral, penurunan jumlah wisatawan serta negara-negara tujuan ekspor yang juga mengalami kontraksi.

Sedangkan, impor terutama impor nonmigas terkontraksi akibat berkurangnya barang yang masuk seperti mesin dan pesawat mekanik, peralatan listrik, plastik dan barang dari plastik serta besi dan jasa.

Berdasarkan struktur PDB, maka komponen konsumsi rumah tangga masih dominan menjadi penyumbang terbesar ekonomi hingga 57,85 persen, diikuti PMTB 30,61 persen serta ekspor 15,69 persen.

Sebelumnya, BPS mencatat terjadinya kontraksi dalam perekonomian Indonesia sehingga tumbuh minus 5,32 persen pada triwulan II 2020.

Pertumbuhan ekonomi negatif ini merupakan yang pertama kalinya sejak triwulan I 1999 sebesar minus 6,13 persen atau ketika Indonesia mengalami krisis finansial di kawasan Asia.

Sebelumnya, pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2020 tercatat mencapai 2,97 persen atau mulai menunjukkan adanya perlambatan akibat pandemi COVID-19.

Baca juga: Flash - BPS: ekonomi Indonesia triwulan II-2020 minus 5,32 persen
Baca juga: Wamenkeu: Jangan khawatir urusan label resesi ekonomi

Pewarta: Satyagraha
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar