Dorong potensi perikanan, Bappenas imbau ikan jadi menu utama di rumah

Dorong potensi perikanan, Bappenas imbau ikan jadi menu utama di rumah

Ilustrasi: Seorang nelayan di Pulau Buru, Provinsi Maluku menggotong ikan tuna sirip kuning (yellowfin tuna) tangkapannya. Kelompok nelayan ikan tuna di Pulau Buru baru saja dinyatakan lulus sertifikasi ekolabel internasional untuk sektor perikanan dan kelautan dari Marine Stewardship Council (MSC). (FOTO ANTARA/HO-Bappenas-UNDP Global Marine Commodities Project)

Kami mendorong agar potensi perikanan terus ditingkatkan. Salah satunya dengan menjadikan penggunaan produk perikanan sebagai menu utama setiap rumah tangga dan perhotelan
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas menyatakan sektor perikanan dapat menjadi salah satu lapangan usaha yang membantu penguatan ekonomi dan menjadi bantalan terhadap potensi resesi.

"Kami mendorong agar potensi perikanan terus ditingkatkan. Salah satunya dengan menjadikan penggunaan produk perikanan sebagai menu utama setiap rumah tangga dan perhotelan," kata Direktur Kelautan dan Perikanan Kementerian PPN/Bappenas Sri Yanti JS dalam pernyataan di Jakarta, Senin.

Menurut dia, kontraksi yang sedang terjadi pada perekonomian Indonesia membuat seluruh pemangku kepentingan terkait bersinergi melalui kerja-kerja produktif dan fokus untuk mendorong pengembangan sektor ekonomi yang potensial.

Baca juga: Menteri Edhy: KKP pastikan produksi perikanan bermutu tinggi

Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah dengan meningkatkan konsumsi produk perikanan nasional baik ikan, udang, kerang, dan jenis lainnya, yang berimplikasi pada peningkatan produktivitas nelayan dan pembudidaya ikan.

"Peningkatan produk perikanan sangat berdampak pada peningkatan perekonomian dan daya beli para nelayan dan pembudidaya ikan, sehingga bisa menjadi bantalan penting bagi potensi terjadinya resesi ekonomi," ujarnya.

Sri memastikan potensi sektor perikanan sangat besar didukung oleh nelayan sebanyak 2,01 juta orang, dengan 80 persen di antaranya merupakan nelayan skala kecil, serta 4,3 juta orang pembudidaya ikan.

Baca juga: Menteri Edhy optimistis ekspor perikanan melesat saat pandemi

Selain itu pemberdayaan sektor perikanan ini juga mempunyai nilai tambah lainnya dalam pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, memperluas lapangan kerja, dan kesempatan berusaha, serta peningkatan ekspor untuk menghasilkan devisa negara.

Produk perikanan yang saat ini dapat menjadi komoditas unggulan, kata dia, adalah budi daya udang. Rencana pengembangan produk melalui revitalisasi tambak telah masuk dalam RPJMN 2020-2024 dan mendapatkan dukungan dari 10 kementerian/lembaga maupun pemda.

Revitalisasi tambak di kawasan sentra produksi udang itu diharapkan mampu mendukung peningkatan produksi perikanan budi daya menjadi 10,32 juta ton pada 2024 atau tumbuh 8,5 persen per tahun dan pertumbuhan ekspor udang 8 persen per tahun.

Lokasi revitalisasi tambak tersebut antara lain di Pantai Utara Jawa, Lampung, Sulawesi Selatan, dan NTB, dengan kebutuhan pendanaan sebesar Rp25 triliun yang terdiri dari APBN sebesar Rp3,3 triliun dan KPBU/swasta sebesar Rp21,7 triliun.

Baca juga: KKP ajak pelaku usaha perikanan perhatikan aspek pengemasan

 

Pewarta: Satyagraha
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Kementerian PPN belajar kearifan lokal penanganan COVID-19

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar