BKKBN ingatkan pentingnya ASI, jarak kehamilan dan stunting

BKKBN ingatkan pentingnya ASI, jarak kehamilan dan stunting

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo. (ANTARA/Muhammad Zulfikar)

pendamping ASI pada masyarakat miskin kurang optimal
Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mengingatkan para ibu rumah tangga dan masyarakat di Tanah Air agar terus memerhatikan tiga hal penting terkait pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif, jarak kehamilan dan stunting.

"Ibu-ibu rumah tangga dan keluarga harus paham tiga hal itu dan perlu terus diingat," kata dia saat diskusi daring pada peringatan Pekan Menyusui Sedunia yang dipantau di Jakarta, Rabu.

Ia mengatakan jika jarak melahirkan yang pertama dengan kedua lebih dari tiga tahun, maka hal tersebut tergolong bagus dan kemungkinan stunting juga kecil bahkan tidak ada.

"Apabila anak pertama sudah berusia 24 bulan, maka pasangan suami istri baru merencanakan hamil berikutnya," kata Hasto.

Kemudian berdasarkan hasil penelitian, pemberian ASI eksklusif dan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) juga memberikan efek dua kali lipat pada anak agar tidak stunting.

Baca juga: Menkes: Pemberian ASI hak asasi bayi yang harus dijamin

Baca juga: Kemenkes dorong pemberian ASI eksklusif tangani stunting saat pandemi


Selain dapat mencegah stunting, pemberian ASI eksklusif dan pengaturan jarak kehamilan juga berkaitan erat dengan pencegahan autisme.

"Hal ini penting untuk diketahui oleh keluarga," katanya.

Pada kesempatan itu, Hasto juga mengingatkan pentingnya pemberian pendamping ASI saat anak telah berusia enam hingga 24 bulan.

Ia mengatakan berdasarkan data yang dihimpun BKKBN, angka stunting pada anak usia enam hingga 24 bulan ternyata banyak terjadi pada masyarakat ekonomi lemah.

"Ini menunjukkan pendamping ASI pada masyarakat miskin kurang optimal," kata dia.

Oleh karena itu, adanya bantuan pangan nontunai dari pemerintah pada saat pandemi COVID-19 saat ini penting sekali. Hanya saja bantuan itu diharapkan tidak hanya yang mengandung karbohidrat tetapi juga kaya akan protein.

Baca juga: Akademisi: Kampanye ASI eksklusif harus terus diintensifkan

Baca juga: Bayi kurang ASI eksklusif bisa turunkan potensi Bifidobacterium

Pewarta: Muhammad Zulfikar
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar