Minyak turun terseret kekhawatiran permintaan, Brent 44,80 dolar AS

Minyak turun terseret kekhawatiran permintaan, Brent 44,80 dolar AS

Rig pengeboran di Ladang Minyak Yarakta, yang dimiliki perusahaan minyak Irkutsk (INK), Rusia, (11/3/2019). ANTARA/REUTERS/Vasily Fedosenko/aa.

Apakah penyebaran virus corona akan terus berdampak pada kembalinya permintaan bensin dan solar
New York (ANTARA) - Harga minyak turun tipis pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), di tengah kekhawatiran bahwa permintaan akan pulih lebih lambat dari yang diperkirakan akibat penguncian pandemi COVID-19, sementara meningkatnya pasokan juga membayangi optimisme atas penurunan persediaan minyak mentah dan bahan bakar.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Oktober ditutup pada 44,80 dolar AS per barel, turun 16 sen. Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk penyerahan September berkurang 23 sen, menjadi menetap pada 42,01 dolar AS per barel.

Untuk minggu ini, Brent naik 0,9 persen dan WTI menguat 1,9 persen.

Baca juga: Minyak tergelincir setelah IEA pangkas perkiraan permintaan 2020

Minggu ini, dua peramal terkemuka, Badan Energi Internasional (IEA) dan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), memangkas perkiraan mereka untuk permintaan minyak 2020 . OPEC dan sekutunya meningkatkan produksi bulan ini.

Dalam laporan bulanannya yang dirilis pada Kamis (13/8/2020), Badan Energi Internasional menurunkan perkiraan permintaan untuk tahun 2020 sebesar 140.000 barel menjadi 91,9 juta barel per hari. OPEC juga memangkas proyeksi permintaan minyak mentah global untuk 2020 dalam sebuah laporan yang dirilis awal pekan ini.

"Pertanyaan gambaran besarnya adalah apakah penyebaran virus corona akan terus berdampak pada kembalinya permintaan bensin dan solar," kata Andy Lipow dari Lipow Oil Associates di Houston, dikutip dari Reuters.

Harga didorong awal pekan ini oleh data pemerintah AS yang menunjukkan minyak mentah, bensin, dan persediaan sulingan turun selama pekan lalu karena penyulingan meningkatkan produksi dan permintaan produk-produk minyak naik.

"Jika tren itu terus berlanjut, itu sangat mendukung harga dan akan mendorong harga lebih tinggi," kata Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group di Chicago.

Jumlah rig minyak dan gas AS, indikator pasokan di masa depan, turun minggu ini selama 15 minggu berturut-turut ke rekor terendah, menurut perusahaan jasa energi Baker Hughes.

"Pasar ingin keluar, tetapi kami tampaknya belum dapat menindaklanjuti karena pertanyaan yang masih ada tentang virus corona," kata Flynn.

Minyak telah pulih dari posisi terendah yang disentuh pada April, ketika WTI sempat berbalik negatif. Namun, peningkatan jumlah infeksi virus corona baru telah membatasi peningkatan. India melaporkan rekor kenaikan harian lainnya pada Kamis (13/8/2020).

OPEC dan sekutunya termasuk Rusia, kelompok yang dikenal sebagai OPEC+, telah memangkas produksi sejak Mei sekitar 10 persen dari permintaan global sebelum pandemi untuk mendukung pasar. Kesepakatan itu menyerukan peningkatan produksi bulan ini karena permintaan pulih.

Panel OPEC+ akan bertemu pada Rabu pekan depan untuk meninjau pasar.

"Ketidakpastian atas permintaan di masa depan, ditambah dengan peningkatan produksi, akan membuat tantangan untuk memulihkan keseimbangan di pasar minyak," kata Eugen Weinberg, analis energi di Commerzbank Research, dalam sebuah catatan pada Jumat (14/8/2020).

Baca juga: Emas jatuh 20,6 dolar tertekan imbal hasil tinggi obligasi AS
Baca juga: Minyak terangkat setelah penurunan stok AS picu harapan permintaan

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

KPBB menilai harga BBM terlalu mahal

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar