Artikel

Pantai Parangkusumo dan kisah Kanjeng Ratu Kidul

Pantai Parangkusumo dan kisah Kanjeng Ratu Kidul

SOLO, 21/1 - TOKOH JAWA. Seorang pengunjung mengamati lukisan bergambar Ratu Kidul, karya pelukis Basuki Bawono, pada pameran lukisan bertema "Mulat Sariro" (mawas diri), di Pendapa Taman Sriwedari Solo, Jateng, Senin (21/9). Pameran yang akan berlangsung hingga 25 Januari mendatang itu menampilkan lukisan wajah sejumlah tokoh dan raja di Tanah Jawa. FOTO ANTARA/R Rekotomo/mes/08 (ANTARA/R REKOTOMO)

Jakarta (ANTARA) - Cerita mengenai Kanjeng Ratu Kidul tak bisa lepas dari pantai Parangkusumo yang lokasinya 30 kilometer dari Yogyakarta.

Konon, pantai itu dianggap keramat karena dipercaya sebagai gerbang menuju Kerajaan Laut Selatan.

Siti Jumanah, pemandu wisata dan abdi dalem Keraton Yogyakarta Hadiningrat, dalam tur virtual dari HIS Travel, Sabtu, mengatakan pantai itu dianggap sebagai gerbang yang menghubungkan dunia nyata dan dunia gaib laut pantai Selatan.

Pantai Parangkusumo dulu merupakan tempat bertapa Danang Sutawijaya alias Panembahan Senopati yang disebut bertemu dengan Ratu Kidul di sana.

Dalam Babad Tanah Jawi, disebut Danang bertapa karena ingin menjadi Raja Mataram, kemudian Ratu Kidul berjanji membantu mengabulkan keinginannya dan membantu menjaga ketentraman rakyat Mataram hingga turun temurun.

"Panembahan Senopati diajak Kanjeng Ratu Kidul ke istana keraton laut Selatan di dasar samudera, lalu terjalinlah cinta dan itu merupakan awal kisah pernikahan spiritual antara Kanjeng Ratu Kidul dan Danang Sutawijaya," jelas Siti.

Baca juga: Gua Song Gilap bakal jadi objek wisata baru Gunung Kidul yang "ngehit"

Baca juga: Mudik ke Gunung Kidul? Jangan lupa cicipi "thiwul ikan asin"


Sebagai imbalannya, Danang Sutawijaya rutin memberikan persembahan di Pantai Selatan yang masih rutin dilakukan lewat ritual upacara labuhan. Ritual ini merupakan permohonan menghilangkan sifat buruk dengan melarung barang-barang ke Laut Pantai Selatan.
Sejumlah abdi dalem Keraton Yogyakarta berdoa saat Prosesi Labuhan Parangkusumo di Pantai Parang Kusumo, Bantul, DI Yogyakarta, Sabtu (6/4/2019). Prosesi adat yang dihadiri ribuan warga dan digelar setiap satu tahun sekali tersebut merupakan bentuk puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus bagian dari rangkaian kegiatan peringatan Tingalan Dalem Jumenengan atau bertakhtanya Sri Sultan HB X sebagai Raja Keraton. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/hp. (Antara Foto/Andreas Fitri Atmoko)



"Ini perwujudan filosofi menjaga keselarasan, keserasian dan keseimbangan antara manusia dan alam," jelas Siti.

Pantai Parangkusumo masih dianggap sakral hingga saat ini, buktinya masih banyak orang yang datang untuk berdoa atau bersemedi di sana.

Menurut Aryono dari Historia.id, kebiasaan ini bermula dari perilaku masyarakat yang meniru gerak-gerik pemimpin mereka.

"Masyarakat lihat apa yang dilakukan raja kepada Kanjeng Ratu Kidul, mereka mengikutinya. Kalau raja melakukan sebuah ritual, masyarakat juga mengikutinya."

Mengenai pernikahan spiritual antara Ratu Kidul dan Panembahan Senopati, Aryo mengatakan Babad -kumpulan naskah bahasa Jawa- tak sepenuhnya berisi sejarah akurat, namun dihiasi juga oleh berbagai mitos yang tujuannya untuk mengkultuskan raja.

Aryo menuturkan, sastrawan Pramoedya Ananta Toer berpendapat kisah Ratu Kidul hanya mitos yang diciptakan untuk menutupi berita kekalahan Sultan Agung yang gagal menyerang Batavia, juga gagal menguasai pantai utara Jawa.

"Maka, dibuat mitos bahwa dia masih kuat di pesisir selatan."

Baca juga: Wisata Mangrove, harapan baru warga pesisir Tanjungpunai

Baca juga: Pesisir Selatan bakal miliki obyek wisata bernuansa Portugis

 
Sejumlah abdi dalem Keraton Yogyakarta membawa sesaji menuju pantai saat Prosesi Labuhan Parangkusumo di Pantai Parang Kusumo, Bantul, DI Yogyakarta, Sabtu (6/4/2019). Prosesi adat yang dihadiri ribuan warga dan digelar setiap satu tahun sekali tersebut merupakan bentuk puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus bagian dari rangkaian kegiatan peringatan Tingalan Dalem Jumenengan atau bertakhtanya Sri Sultan HB X sebagai Raja Keraton Yogyakarta. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/hp. (Antara Foto/Andreas Fitri Atmoko)


Misteri

Laut Selatan diselimuti banyak misteri karena "ganasnya" laut menimbulkan berbagai kecelakaan di sana. Namun, mitos bahwa insiden di laut berhubungan dengan Ratu Kidul sebetulnya bisa dijelaskan secara ilmiah.

Aryo menuturkan, berdasarkan beberapa kajian, banyak korban berjatuhan di sana karena arusnya memang kencang.

"Kalau bawa botol kosong, lemparkan ke salah satu sudut laut, jika botol terapung dan kembali ke pantai, arus lautnya minimal. Kalau botol terus terbawa ke tengah laut, lokasi itu punya arus laut tinggi."

Begitu pula tentang larangan memakai baju hijau di pantai selatan yang konon disebabkan warna itu identik dengan Ratu Kidul.

Mengutip Pram, Aryo mengatakan warna hijau identik dengan seragam VOC. Larangan itu dibuat agar orang-orang melupakan keterkaitan antara warna hijau dengan seragam VOC, katanya.

Dia juga membahas tentang lukisan Kanjeng Ratu Kidul yang dibuat oleh maestro Basoeki Abdullah.

Basoeki, kata Aryo, melukis Ratu Kidul berdasarkan anggapan banyak orang kalau sosok itu memiliki raut wajah yang cantik. Dia memilih seorang istri dokter bernama Nyonya Harahap sebagai model untuk lukisan Ratu Kidul.

"Setelah lukisan jadi, tak lama kemudian Nyonya Harahap meninggal karena sakit kanker. Semula, Basoeki anggap itu kebetulan," katanya.

Dia mengutip buku biografi Basoeki Abdullah dari Agus Dermawan, maestro lukis itu membuat beberapa lukisan Ratu Kidul lain dengan model yang berbeda.

"Pas lukisan jadi, modelnya sakit atau meninggal."

Baca juga: Mengenal gudeg, kuliner yang usianya setua Yogyakarta

Baca juga: Pulo Cinta Eco Resort kembali dibuka

Baca juga: Menikmati penjelajahan alam dan wisata laut di Labuan Bajo

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Penyebab kematian hiu paus di pantai Parangkusumo

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar