Triputra Agro Persada-YKAN sinergi cegah kebakaran hutan dan lahan

Triputra Agro Persada-YKAN sinergi cegah kebakaran hutan dan lahan

Triputra Agro Persada Group (TAP Group) dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) melakukan sosialisasi Program Pengelolaan Pencegahan Karhutla Terpadu di Kantor Kepala Kampung Muara Lesan, Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. ANTARA/HO-YAKN

Upaya pelestarian alam dan peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat berjalan selaras. Setiap individu merupakan komponen penting dalam upaya pelestarian alam di Indonesia, sehingga pemberdayaan warga desa merupakan kunci utama
Jakarta (ANTARA) - Triputra Agro Persada Group (TAP Group) bersama Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) mengembangkan manajemen pencegahan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) terpadu yang mengintegrasikan nilai lingkungan, sosial, dan ekonomi melalui program Aksi Inspiratif Warga untuk Perubahan (SIGAP).

Melalui pendekatan SIGAP, kerja sama ini bertujuan memperkuat program Desa Makmur Peduli Api (DMPA) TAP Group dalam memajukan praktik pengelolaan kawasan hutan yang lestari, yang memberikan dampak sosial, ekonomi, dan ekologis. “Upaya pelestarian alam dan peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat berjalan selaras. Setiap individu merupakan komponen penting dalam upaya pelestarian alam di Indonesia, sehingga pemberdayaan warga desa merupakan kunci utama," kata Direktur Eksekutif YKAN, Herlina Hartanto, dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.

Ia menjelaskan, pendekatan SIGAP dapat membantu memperkuat tata kelola desa, mendukung pembangunan desa yang selaras dengan alam, memperkuat hak kelola masyarakat, serta mendorong kegiatan ekonomi masyarakat desa yang berkelanjutan.

“Melalui SIGAP, alam terjaga, kebutuhan sosial dan ekonomi masyarakat juga terpenuhi,” ujar Herlina.

Program ini berlangsung dalam tiga tahap. Tahap pertama Juli 2020-Juni 2021, di dua kampung binaan anak perusahaan TAP Group, PT Yudha Wahana Abadi (YWA) yaitu di Kampung Merapun dan Kampung Muara Lesan, di Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

Direktur Utama TAP Group Tjandra Karya Hermanto mengatakan, program DMPA bertujuan mengoptimalkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) melalui pendekatan aset dan perlindungan lingkungan hidup.

“Dengan begitu, masyarakat diharapkan bisa menemukan potensi dan mengelola sumber-sumber ekonomi yang baru dengan tetap menjaga lingkungan hidup sehingga menghindari pembukaan lahan dengan cara membakar,” ujar Hermanto.

Pendekatan ini fokus pada partisipasi masyarakat lokal dan memastikan komitmen mereka dalam pengelolaan hutan dan sumber daya alam, sekaligus meningkatkan mata pencaharian melalui kegiatan ekonomi alternatif di luar kawasan hutan.

Kegiatan SIGAP merumuskan visi jangka panjang pembangunan desa, termasuk perlindungan hutan; merumuskan rencana pembangunan desa hijau yang terintegrasi secara lingkungan, sosial, dan ekonomi; membangun kesepakatan dan kerja sama pengelolaan hutan secara kolaboratif dengan perusahaan; serta mengamankan hak pengelolaan hutan dan akses dukungan keuangan.

“Melalui kegiatan ini diharapkan dapat mendorong partisipasi aktif warga untuk mengoptimalkan potensi desa dalam mengembangkan kegiatan ekonomi yang ramah lingkungan, sehingga mengurangi potensi karhutla,” ujar Direktur Utama YWA Joko Minto Cahyono.

Joko menjelaskan, kerja sama kedua organisasi ini selaras dengan agenda tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) dari PBB, yaitu menghapus kemiskinan, mengakhiri kelaparan, kesehatan yang baik dan kesejahteraan, pendidikan bermutu, pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, mengurangi ketimpangan, penanganan perubahan iklim, kemitraan untuk mencapai tujuan.

Di samping itu juga mendukung pembangunan berwawasan lingkungan yang dicanangkan melalui Pembangunan Kaltim Hijau oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, sesuai visi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau, yang menekankan pentingnya pengelolaan sumber daya alam dengan mengedepankan kesejahteraan warganya.

Pemkab Berau telah mengadopsi pendekatan SIGAP menjadi Program SIGAP Sejahtera yang mampu membantu meningkatkan Indeks Desa Membangun. Sebagai catatan, dari 99 kampung di Kabupaten Berau, sejak 2018 sudah tidak ada lagi status desa sangat tertinggal.


Baca juga: Ahli ingatkan kembali perlunya audit kepatuhan untuk cegah karhutla

Baca juga: Hari Orangutan Sedunia, konservasionis serukan pencegahan karhutla

Baca juga: Manggala Agni Pekanbaru peringati HUT RI di sela pemadaman karhutla


 

Pewarta: Royke Sinaga
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Latgab penanggulangan bencana alam dan karhutla Sultra

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar