Hari Orangutan Sedunia, konservasionis serukan pencegahan karhutla

Hari Orangutan Sedunia, konservasionis serukan pencegahan karhutla

Tangkapan layar CEO Yayasan BOS Jamartin Sihite (panel kanan bawah) dan Direktur Program IAR Indonesia Karmele Sanchez (panel kiri bawah) dalam diskusi virtual memperingati Hari Orangutan Sedunia, dipantau di Jakarta, Rabu (19/8/2020) (ANTARA/Prisca Triferna)

kami tidak mau mengalami lagi musim kering yang panjang dan kebakaran
Jakarta (ANTARA) - Pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) saat pandemi harus dilakukan untuk menghindari bencana ganda yang tidak hanya bisa memberikan dampak terhadap manusia tetapi juga konservasi orangutan, kata CEO Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) Jamartin Sihite.

"Bertarung melawan COVID-19 sudah menghabiskan energi kita dan segala yang kita punya, jadi jika ada kebakaran yang terjadi lagi itu akan menjadi bencana bagi kita," katanya dalam diskusi virtual memperingati Hari Orangutan Sedunia yang jatuh setiap 19 Agustus oleh pusat kebudayaan Amerika Serikat @america dipantau dari Jakarta, Rabu.

Ia mengaku sudah tidak asing dengan karhutla, mengingat kegiatan wilayah kerja penyelamatan dan rehabilitasi Yayasan BOS berada di Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah yang rawan kebakaran hutan.

Konservasionis itu menegaskan bahwa kebakaran hutan tidak hanya membuat hilangnya habitat alami orangutan, tetapi juga berkurangnya sumber makanan bagi hewan yang masuk kategori terancam kritis di Daftar Merah IUCN itu.

Baca juga: Pakar sebut pandemi COVID-19 beri dampak terhadap konservasi orangutan

Direktur Program International Animal Rescue (IAR) Indonesia Karmele L. Sanchez menegaskan karhutla mimpi buruk bagi yayasannya yang pada tahun lalu mengalaminya di dekat pusat rehabilitasi mereka di Kalimantan.

Ia menegaskan karhutla tidak hanya ancaman terhadap populasi orangutan yang jumlahnya sudah sedikit di alam liar, tetapi juga menyebabkan deforestasi dan menghilangnya habitat banyak hewan.

Kabut asap akibat karhutla di lahan gambut, katanya, selain memberikan pengaruh terhadap kehidupan dan kesehatan manusia, juga berdampak terhadap aktivitas rehabilitasi orangutan.

Dia mengatakan jika terjadi krisis beruntun pandemi COVID-19 dan karhutla, tidak hanya akan memberi dampak kepada alam tetapi juga secara finansial dan psikologis.

"Kami sangat bahagia sekarang masih hujan dan tidak mengalami musim kemarau yang panjang di Kalimantan, karena kami tidak mau mengalami lagi musim kering yang panjang dan kebakaran," kata dia.

Baca juga: KLHK lepasliarkan 26 orangutan selama 2020
Baca juga: Cegah COVID-19, BOSF tutup sementara fasilitas rehabilitasi orangutan

Pewarta: Prisca Triferna Violleta
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Bayi orangutan Kalimantan lahir di kebun binatang Inggris

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar