Pandeglang (ANTARA News) - Tiga gunung yang ada di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, yakni Gunung Aseupan, Karang dan Pulosari atau biasa disebut Akarsari menjadi sasaran penghijauan guna kelestarian hutan di kawasan itu.

"Untuk mengembalikan dan melestarikan lingkungan kita terus melakukan penghijuan di antaranya dilaksanakan di tiga gunung tersebut," kata Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Pandeglang Tata Nanzar di sela-sela kegiatan reboisasi gabungan di kawasan Gunung Pulosari, Minggu.

Menurut dia, kawasan Akarsari (Aseupan, Karang dan Pulosari) keberadaannya sangat vital tidak hanya bagi Kabupaten Pandeglang tapi juga untuk Provinsi Baten karena menjadi sumber resapan air utama untuk mencukupi kebutuhan air bagi masyarakat setempat.

Kawasan Akarsari memiliki luas 7.600 haktare (ha) dan kondisinya kini cukup bagus karena hanya sedikit yang mengalami kerusakan.

Ia menjelaskan, kawasan Akarsari dibagi menjadi dua bagian yakni kawasan hutan lindung dan hutan rakyat dengan tanggung jawab pengelolaan oleh PT Perhutani.

"Memang di sekitar kawasan Akarsari ada hutan rakyat, namun demikian kegiatan penebangan pohon tidak bisa dilakukan begitu saja, harus tetap hati-hati agar daerah resapan air tidak rusak," ujarnya.

Mengenai realisasi penanaman pohon selama 2009, menurut dia, berhasil melampaui target yang ditetapkan.

"Selama 2009 kita manargetkan penanaman pohon sebanyak 2,5 juta batang melalui program `one man one tree`, dan hingga saat ini jumlah pohon yang telah ditanam mencapai 2,937 juta batang," katanya.

Dari total pohon yang telah ditanam itu, kata dia, sebanyak 200 ribu batang di antaranya bantuan dari Balai Pusat Daerah Aliran Sungan (BP DAS), 190 ribu dari Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Pandeglang, 600 ribu batang stackholder, dan sisanya swadaya masyarakat.

Jenis tanaman bantuan dari BP DAS di antaranya albazia sebanyak 20 ribu batang, mahoni 37 ribu batang, gemelia 35 ribu batang dan massopulai 28 ribu batang serta pulai 25 ribu batang.

Sedangkan dari Distanbun seperti kakao, cengkih dan jenis tanaman perkebunan lainnya, dari stackholder dan swadaya masyarakat sebagian besar albazia.

Tata juga menjelaskan, kegiatan penanaman dengan melibatkan berbagai elemen termasuk masyarakat akan terus dilakukan sehingga lahan kritis di daerah itu bisa berkurang. Saat ini luas lahan kritis yang ada di daerah itu mencapai 52 ribu ha dan 42 ribu ha di antaranya merupakan Daerah Aliran Sungai (DAS).

Untuk menghijaukan kembali lahan itu dibutuhkan waktu cukup lama dengan kebutuhan bibit mencapai jutaan batang.

Pemerintah, kata dia, sejak beberapa tahun lalu terus berupaya untuk menghijaukan kembali lahan kritis itu melalui berbagai program seperti Gerhan dan aksi penanaman serentak.

"Kita juga patut bersyukur karena masyarakat Pandeglang termasuk senang menanam pohon jadi ketika dihimbau untuk menanam pohon mereka pun sangat antusias," katanya. (*)

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2010