Denpasar (ANTARA News) - Kegiatan ritual terkait dengan hari Siwaratri, yakni hari perenungan dosa, dipusatkan di Pura Besakih, tempat suci umat Hindu terbesar di Bali, pada 14-15 Januari 2010.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika bersama para kepala satuan kerja perangkat daerah (SKPD) akan berbaur dengan masyarakat mengikuti rangkaian hari Siwaratri, Kata Kepala Biro Kesra Pemprov Bali I Gusti Putu Yudi Arnawa SH di Denpasar, Selasa.

Ia mengatakan, salah satu hari suci umat Hindu itu bermakna untuk melakukan introspeksi diri melalui "Jagra" atau tidak melakukan makan dan minum apapun selama 36 jam.

Selain tidak makan dan minum, selama dua siang dan satu malam tersebut umat juga tidak tidur dan tidak bicara.

Yudi Arnawa menjelaskan, rangkaian kegiatan ritual tersebut melibatkan 36 sulinggih (pendeta) utusan dari delapan kabupaten dan satu kota di bali.

Selama pelaksanaan Hari Siwaratri itu, umat Hindu akan melaksanakan tiga kali persembahyangan di pelataran Pura Agung Besakih, Kabupaten Karangasem, 90 km timur Denpasar.

Persembahyangan pertama yang dipimpin para pendeta berlangsung pada Kamis (14/1) pukul 19.00 Wita, kedua pukul 00.00 Wita dan persembahyangan ketiga Jumat (15/1) pukul 05.00 Wita.

Hari Siwaratri itu jatuh setiap 420 hari sekali, yakni bertepatan dengan hari ke-14 dari saat purnama pada bulan ketujuh kalender Bali (patuh gelap bulan ketujuh/panglong ping 14 sasih kepitu).

Umat Hindu Bali memiliki pemahaman dan keyakinan bahwa hari tersebut mengandung makna yang sangat mendalam dalam memburu kebaikan atau dharma.

Ketua Program Studi Pemandu Wisata Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar Drs I Ketut Sumadi M.Par dalam kesempatan terpisah berharap, melalui perayaan Siwaratri umat Hindu dapat melakukan instrospeksi diri, mencari penyebab dan jalan keluar dari berbagai permasalahan yang dihadapi dengan menerapkan konsep "Karma Marga", yakni kerja keras dan penuh inovasi.

Aktualisasi diri dalam melakukan pendakian spiritual tersebut dapat mengendalikan diri dan hidup hemat memenuhi keinginan dalam kehidupan sehari-hari.

"Jika keinginan tidak dapat dikendalikan, maka kehidupan menjadi boros. Hal itu karena umat memburu yang tidak menjadi kebutuhan utama dalam kehidupan," ujar Ketut Sumadi.

Perayaan Hari Siwaratri umumnya akan berlangsung di setiap pura yang ada di masing-masing desa adat di Bali.

Kegiatan ritual tersebut sekaligus bermakna mohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Ida Sanghyang Widhi Wasa, agar bangsa dan negara Indonesia mampu mengatasi akibat krisis global serta terhindar dari bencana alam dan hal-hal yang tidak diinginkan lainnya.

Hal lain yang tidak kalah penting bermakna memberikan pengetahuan kepada umat manusia agar menyadari bahwa dalam dirinya selalu ada "pertarungan" antara Dewi Sampad (sifat baik) dengan Asuri Sampad (sifat buruk).

Oleh sebab itu, sebaik-baiknya tingkah laku dan perbuatan manusia pasti pernah melakukan dosa (kesalahan) dalam kehidupannya. Demikian pula sejelek-jeleknya manusia pasti pernah berbuat yang baik (benar).

Menyadari hal itu, melalui perayaan Siwaratri dimaksudkan mampu memberikan motivasi kepada setiap umat Hindu, agar sadar dan berusaha maksimal menghindari perbuatan dosa serta memperbanyak perbuatan dharma (kebaikan), harap Ketut Sumadi.(*)

Pewarta:
Editor: Aditia Maruli Radja
Copyright © ANTARA 2010