COVID-19 jarang berdampak parah atau mematikan bagi anak-anak

COVID-19 jarang berdampak parah atau mematikan bagi anak-anak

Sejumlah staf berjalan menjelang pembukaan kembali Museum Inggris di London, Inggris, Selasa (25/8/2020). Museum tersebut akan dibuka kembali pada Kamis, 27 Agustus. ANTARA FOTO/Xinhua/Han Yan/wsj.

Kami yakin bahwa COVID sendiri tidak menyebabkan bahaya pada anak-anak dalam skala yang signifikan
London (ANTARA) - Anak-anak dan remaja jauh lebih kecil kemungkinannya terkena kasus infeksi COVID-19 yang parah dibandingkan dengan orang dewasa.

Selain itu, kematian akibat penyakit tersebut di antara anak-anak sangat jarang terjadi, menurut penelitian Inggris yang diterbitkan pada Kamis (27/8).

Menurut penelitian terhadap para pengidap COVID-19 yang dirawat di 138 rumah sakit di Inggris, kurang dari satu persen pasien adalah anak-anak.

Dan, di antara satu persen itu --yakni total enam anak-- meninggal. Semua anak yang meninggal tersebut sebelumnya menderita penyakit serius atau punya gangguan kesehatan.

"Kami yakin bahwa COVID sendiri tidak menyebabkan bahaya pada anak-anak dalam skala yang signifikan," kata Malcolm Semple, profesor pengobatan wabah dan kesehatan anak di Universitas Liverpool Inggris, yang ikut memimpin penelitian tersebut.

"Pesan yang paling kuat adalah bahwa (pada anak-anak dengan COVID-19) penyakit parah jarang terjadi, dan kematian semakin jarang -dan (orang tua) bisa nyaman bahwa anak-anak mereka tidak menghadapi bahaya secara langsung dengan kembali ke sekolah," katanya dalam sebuah pengarahan.

Data global tentang penyebaran pandemi virus corona menunjukkan bahwa anak-anak dan remaja hanya merupakan bagian satu hingga dua persen dari total kasus COVID-19 di seluruh dunia.

Sebagian besar penularan pada pada anak-anak bersifat ringan atau tanpa gejala, dan hanya sedikit anak yang dilaporkan meninggal.

Untuk riset tersebut, yang diterbitkan dalam jurnal medis BMJ, tim Semple meneliti data dari 651 bayi dan anak-anak di bawah 19 tahun, yang dirawat di rumah sakit karena COVID-19 antara 17 Januari dan 3 Juli.

Enam anak yang meninggal semuanya memiliki "komorbiditas yang serius", kata para peneliti.

Jumlah tersebut, kata mereka, adalah tingkat kematian yang "sangat rendah" dibandingkan dengan 27 persen pada semua kelompok usia pasien COVID-19, yaitu dari 0-106 tahun, yang dirawat di rumah sakit selama periode yang sama.

Sementara kemungkinan anak-anak untuk mengalami COVID yang parah adalah "kecil", kata para peneliti, anak-anak dari etnis kulit hitam dan dalam keadaan obesitas mengalami dampak secara tidak proporsional.

Keadaan yang sama ditemukan dalam penelitian sebelumnya pada orang dewasa.

Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa anak-anak dapat memiliki sekelompok gejala, termasuk sakit tenggorokan, mual, muntah, sakit perut, diare dan ruam, bersamaan dengan gejala-gejala COVID-19 --seperti demam, sesak napas, dan batuk.

Sumber: Reuters

Baca juga: Warga Inggris sambut anjuran pemerintah untuk makan di luar

Baca juga: Inggris nyatakan insiden besar COVID-19 di Kota Manchester

Baca juga: Kucing peliharaan di Inggris hewan pertama yang positif corona

Penerjemah: Tia Mutiasari
Editor: Gusti Nur Cahya Aryani
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Libatkan 5.600 mahasiswa, Nadiem apresiasi KKN tematik COVID-19

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar