Rangkasbitung (ANTARA News) - Pakaian produk China di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, diserbu pembeli karena kualitasnya dinilai lebih bagus dibandingkan produk lokal.

Saepudin (50), seorang pedagang di Rangkasbitung, Minggu, sejak diterapkan perdagangan bebas ASEAN-China (ACFTA) 2010 kini banyak pembeli menyerbu produk busana China.

Produk buatan China memiliki keunggulan, terutama kualitas bahan dan model busana lebih bergaya untuk pengguna remaja, meski harganya relatif mahal dibandingkan buatan lokal.

Menurut dia, setiap hari banyak pengunjung datang ke sini membeli produk China dengan jumlah cukup banyak.

Sebagian besar mereka pengunjung membeli jenis pakaian wanita, celana dan jaket dengan rata-rata harga Rp120 ribu sampai Rp250 ribu.

"Selama diberlakukan perdagangan bebas kini omzet penjualan naik sekitar 70 persen," kata Seapudin pemilik toko "Ridho" di Jalan Stasiun Rangkasbitung.

Menurut dia, produk China yang sekarang membanjiri Rangkasbitung mereka didrop dari sejumlah pedagang pakaian di Jakarta, seperti Pasar Tanah Abang.

"Saya sebagai pedagang tentu tidak mengkhawatirkan dengan masuknya produk China itu," katanya.

Produk China hingga kini, lanjut dia, tidak berdampak terhadap pedagang, namun dipastikan banyak pengusaha konveksi terancam bangkrut karena kalah bersaing dengan produk luar negeri.

Begitu pula Surya (55), salah seorang pedagang pakaian di Rangkasbitung mengaku meskipun produk China begitu mahal, tetapi pembeli tidak menjadikan masalah harga tersebut.

Mereka pembeli lebih tertarik dengan produk China karena perancang busana dan model sangat cocok digunakan di Indonesia.

"Saya kira busana pakaian buatan China masih wajar-wajar saja dan tidak mengundang etika kesopanan," katanya.

Sementara itu, sejumlah pembeli di Rangkasbitung mengaku mereka lebih tertarik dengan produk china karena memiliki kelebihan di antaranya model busana dan kualitas bahan tekstil itu.

Bahan tekstilnya tidak begitu panas dan cocok dengan iklim di Indonesia.

"Saya membeli pakaian atasan wanita produk China dengan harga Rp150.000 ribu," kata Ine (25) seorang pembeli warga Kota Baru Rangkasbitung.(*)

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2010