Yogyakarta kembali siapkan penampungan untuk isolasi pasien

Yogyakarta kembali siapkan penampungan untuk isolasi pasien

Petugas medis mengambil sampel darah saat tes diagnostic cepat (rapid test) COVID-19 di Pasar Prambanan, Sleman, DI Yogyakarta, Selasa (9/6/2020). ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah/hp.

Yogyakarta (ANTARA) - Pemerintah Kota Yogyakarta akan kembali mengupayakan penyediaan penampungan (selter) untuk kebutuhan isolasi bagi pasien terkonfirmasi positif COVID-19, khususnya pasien yang tidak menunjukkan gejala apapun.

“Kami akan kembali siapkan selter khusus. Sampai sekarang, kami masih mencari gedung atau lokasi yang tepat,” kata Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi di Yogyakarta, Selasa.

Menurut Heroe, pemenuhan kebutuhan selter tersebut cukup sulit direalisasikan karena pemerintah daerah tidak memiliki semacam gedung khusus seperti asrama yang sewaktu-waktu bisa digunakan untuk menampung orang dalam jumlah banyak.

Sedangkan pilihan untuk menggunakan hotel sebagai selter bagi pasien tanpa gejala, lanjut dia, juga tidak mudah dilakukan karena saat ini sebagian besar hotel sudah kembali beroperasi dan akan mengutamakan pelayanan kepada tamu atau wisatawan.

Baca juga: Wali Kota: Warga Yogyakarta jangan bosan pakai masker

Baca juga: 73 persen koperasi di Kota Yogyakarta terdampak pandemi COVID-19


“Kesiapan masyarakat pun harus diperhatikan apabila suatu saat di sekitar tempat tinggal mereka akan digunakan sebagai selter khusus untuk pasien tanpa gejala,” kata Heroe yang juga menjabat sebagai Ketua Harian Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Yogyakarta.

Meskipun demikian, Heroe mengatakan, akan terus mencari tempat yang tepat terlebih saat ini jumlah pasien terkonfirmasi positif dan tidak menunjukkan gejala sakit apapun jumlahnya cukup banyak.

Dengan berada di selter, lanjut dia, pasien akan lebih fokus melakukan pemulihan kondisi kesehatannya dan tidak rentan menularkan virus corona ke anggota keluarga lain di rumah.

“Isolasi mandiri di rumah sebenarnya juga cukup efektif, tetapi harus dilakukan secara ketat dan disiplin supaya tidak menularkan virus ke anggota keluarga lain. Saat melakukan isolasi mandiri di rumah, pasien juga akan merasa lebih nyaman,” katanya.

Selama belum mendapat lokasi yang tepat sebagai selter untuk isolasi, saat ini di wilayah dibuka semacam posko untuk pemantauan pelaksanaan isolasi mandiri di rumah, salah satunya berada di Kelurahan Pandeyan karena di wilayah tersebut muncul kasus penularan dari kluster warung soto.

“Pasien positif COVID-19 tanpa gejala ditempatkan di satu rumah khusus. Kebetulan, mereka kebanyakan adalah keluarga dan karyawan warung soto. Untuk anggota keluarga yang negatif, justru dicarikan tempat lain,” katanya.

Sampai saat ini, setidaknya terdapat 40 pasien positif COVID-19 di Kota Yogyakarta yang melakukan isolasi mandiri di rumah, sedangkan jumlah pasien yang menjalani perawatan 12 orang.

Sementara itu, Anggota Komisi D DPRD Kota Yogyakarta Muhammad Ali Fahmi mengatakan, selter untuk pasien tanpa gejala sangat dibutuhkan selain rumah sakit rujukan untuk pasien positif COVID-19.

“Dalam aturan kementerian, pasien tanpa gejala memang dapat melakukan isolasi mandiri di rumah. Tetapi, terkadang ada beberapa kendala seperti adanya anak balita atau lansia yang tinggal di satu rumah sehingga rentan tertular,” katanya.

Oleh karena itu, lanjut dia, keberadaan selter sangat mendesak dipenuhi karena jumlah pasien tanpa gejala juga cukup banyak.

“Saya kira, ada banyak gedung pemerintah yang tidak terpakai dan bisa digunakan dan kami juga berharap ada rumah sakit non rujukan yang dijadikan cadangan untuk isolasi jika selter tidak mampu menampung pasien,” katanya.*

Baca juga: Kabupaten/kota di DIY belum usulkan PSBB

Baca juga: Baznas Yogyakarta salurkan 20.000 masker produksi kampung binaan


Pewarta: Eka Arifa Rusqiyati
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Gubernur Riau instruksikan 12 Kabupaten/Kota menambah fasilitas isolasi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar