Mengenal tren mengencangkan organ kewanitaan dengan suntik "stem cell"

Mengenal tren mengencangkan organ kewanitaan dengan suntik "stem cell"

Ilustrasi ruang pemeriksaan dokter kandungan (Pixabay)

Jadi kalau terapi pakai sel punca, sel-sel yang sudah sakit bisa diperbarui
Jakarta (ANTARA) - Terapi sel punca, stem cell, terbukti memiliki banyak manfaat, bukan hanya untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit degeneratif, tapi juga populer di dunia kecantikan termasuk mengencangkan organ kewanitaan, "Miss V".

"Sudah banyak sih pasien ibu hamil yang datang, nanya ke saya, jadi saya jelasin apa itu terapi stem cell karena menurut saya ini adalah investasi kesehatan," kata dokter spesialis kandungan dr Dinda Derdameisya, Sp.OG dikutip dari siaran Instagram Prodia Stemcell pada Jumat.

Baca juga: Tips menjaga kesehatan organ kewanitaan

Baca juga: Lima cara mencegah keputihan saat perjalanan mudik


Sel punca alias stem cell adalah sel induk di dalam tubuh yang mampu beregenerasi menjadi sel baru.

"Jadi kalau terapi pakai sel punca, sel-sel yang sudah sakit bisa diperbarui," kata dr Dinda.

Khusus untuk peremajaan organ kewanitaan, prosedur terapi stem cell bisa dilakukan dengan suntikan.

"Stem cell disuntikkan ke vagina sebanyak beberapa cc agar sel vagina bisa beregenerasi," kata dr Dinda.

Stem cell bisa didapatkan dari tali pusat, sumsum tulang atau lemak darah. "Tapi yang paling baik dari tali pusat karena di situ paling banyak stem cell karena dari sel kecil yang membelah jadi bayi, segala sel bisa dibentuk dari situ."

Aktris Shandy Aulia memiliki pengalaman menyimpan stem cell dari tali pusat saat melahirkan bayi perempuannya yang pertama, Claire Herbowo.

"Pengalamanku saat memutuskan menyimpan tali pusat untuk terapi stem cell mudah sekali, awalnya saat kandungan usia enam atau tujuh aku di-screening, diperiksa apakah punya penyakit lalu saat melahirkan sudah ada petugas yang meng-collect tali pusat, padahal saat itu aku lahiran jam 4 pagi," kata Shandy.

Tak ada syarat usia bagi ibu hamil yang ingin menyimpan tali pusat untuk terapi stem cell.

"Syaratnya tidak punya penyakit yang bisa menginfeksi saja, seperti Hepatitia B, C, AIDS atau sifilis," kata dr Dinda yang menyarankan agar tali pusat disimpan di bank cell di Indonesia demi memudahkan prosedur terapi.

"Karena di Indonesia masih dalam bentuk uji klinis, sebaiknya cari tempat yang benar-benar qualified karena kalau tidak disimpan dengan benar bisa rusak," kata dr Dinda.

Baca juga: Kemenkes uji klinis terapi sel punca untuk pasien COVID-19

Baca juga: Emiten farmasi Phapros gandeng Unair kembangkan serum "anti-aging"

Baca juga: Peneliti Unair temukan potensi Stem Cell sebagai obat COVID-19

Pewarta: Ida Nurcahyani
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Inovasi SMK 1 Limboto, peduli kesehatan reproduksi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar