Sanaa (ANTARA News/AFP) - Sebuah helikopter militer Yaman jatuh di daerah pegunungan utara, Minggu, menewaskan sedikitnya 10 prajurit, kata seorang pejabat, di tengah upaya pemerintah menegakkan gencatan senjata dengan pemberontak Syiah di wilayah itu.

Helikopter itu jatuh di gunung Kahlan, sebelah timur ibukota provinsi, Saada, ajang pertempuran sengit dalam enam bulan terakhir antara pemberontak dan pasukan pemerintah sebelum mereka mencapai gencatan senjata yang rapuh pada Kamis.

"Sedikitnya 10 prajurit tewas," kata pejabat yang tidak bersedia disebutkan namanya itu kepada AFP, dengan menambahkan bahwa helikopter itu menghantam sebuah kendaraan militer.

Helikopter itu jatuh karena masalah "teknis", kata pejabat itu tanpa penjelasan lebih lanjut, dan hanya menyatakan bahwa kapten helikopter itu, Letnan Kolonel Sadek al-Junaid, termasuk diantara mereka yang tewas.

Militer Yaman mengatakan, Minggu, gencatan senjata berlangsung di wilayah utara dan komisi gabungan yang mewakili pemerintah dan pemberontak mengadakan pertemuan untuk membahas pelaksanaan penghentian permusuhan itu.

Pemberontak Syiah Zaidi mengatakan, sejumlah jalan dibuka kembali di sekitar markas Saada mereka, sementara pengepungan dua pekan oleh Resimen Militer 103 telah dicabut.

Namun, sumber-sumber pemberontak mengatakan, pertukaran tahanan mengalami kesulitan pada saat-saat terakhir.

"Pihak berwenang ingin kami membebaskan semua tahanan Yaman dan Saudi, yang bukan merupakan kesepakatan," kata salah satu dari sumber-sumber itu.

Pemberontak ingin menukar tahanan dengan gerilyawan yang ditangkap oleh militer Yaman dan Saudi.

Sementara itu, Arab Saudi menolak menukar gerilyawan yang mereka tahan dengan lima prajurit Saudi yang ditangkap oleh pemberontak, kata sumber lain Zaidi.

Gencatan senjata itu merupakan upaya terakhir pemerintah untuk mengakhiri pemberontakan di wilayah utara yang telah menewaskan ribuan orang dan mengakibatkan 250.000 orang mengungsi.

Kelompok pemberontak Zaidi atau Huthi, nama almarhum pemimpin mereka, berpangkalan di daerah pegunungan di perbatasan Arab Saudi, dimana mereka terlibat dalam pertempuran dengan pasukan Yaman dan Saudi.

Pasukan pemerintah terlibat dalam pertempuran sporadis dengan kelompok itu sejak 2004.

Negara-negara Barat dan Arab Saudi, tetangga Yaman, khawatir negara itu akan gagal dan Al-Qaeda memanfaatkan kekacauan yang terjadi untuk memperkuat cengkeraman mereka di negara Arab miskin itu dan mengubahnya menjadi tempat peluncuran untuk serangan-serangan lebih lanjut.

Yaman menjadi sorotan dunia ketika sayap regional Al-Qaeda AQAP menyatakan mendalangi serangan bom gagal terhadap pesawat penumpang AS pada Hari Natal.

AQAP menyatakan pada akhir Desember, mereka memberi tersangka warga Nigeria "alat yang secara teknis canggih" dan mengatakan kepada orang-orang AS bahwa serangan lebih lanjut akan dilakukan.

Para analis khawatir bahwa Yaman akan runtuh akibat pemberontakan Syiah di wilayah utara, gerakan separatis di wilayah selatan dan serangan-serangan Al-Qaeda. Negara miskin itu berbatasan dengan Arab Saudi, negara pengekspor minyak terbesar dunia.

Sanaa menyatakan, pasukan Yaman membunuh puluhan anggota Al-Qaeda dalam dua serangan pada Desember.

Kedutaan Besar Inggris di Sanaa juga menjadi sasaran rencana serangan bunuh diri Al-Qaeda yang digagalkan aparat keamanan Yaman pada pertengahan Desember.

Sebuah sel Al-Qaeda yang dihancurkan di Arhab, 35 kilometer sebelah utara ibukota Yaman tersebut, "bertujuan menyusup dan meledakkan sasaran-sasaran yang mencakup Kedutaan Besar Inggris, kepentingan asing dan bangunan pemerintah", menurut sebuah pernyataan yang dipasang di situs 26Sep.net surat kabar kementerian pertahanan.

Selain pemberontakan, Yaman juga dilanda penculikan warga asing dalam beberapa tahun ini.

Orang-orang suku di kawasan miskin Yaman seringkali melakukan penyanderaan untuk menekan pemerintah agar memberikan bantuan, pekerjaan, atau membebaskan orang-orang suku rekan mereka yang ditahan.

Lebih dari 200 warga asing diculik di Yaman dalam 15 tahun terakhir.

Hampir semua orang yang diculik itu dibebaskan tanpa cedera setelah penengahan yang melibatkan pemimpin-pemimpin suku.

Namun, pada 2000, seorang diplomat Norwegia tewas terperangkap dalam tembak-menembak, dan pada 1998 empat orang Barat tewas tertembak ketika militer berusaha membebaskan mereka dari kelompok muslim garis keras yang menyandera 16 wisatawan. (M014/K004)

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2010