Denpasar (ANTARA News) - Guru Besar Universitas Udayana Prof Dr I Wayan Windia, MS menilai, Subak, sebuah sistem organisasi pengairan tradisinal dalam bidang pertanian di Bali mampu memadukan nilai tradisional menyangkut nilai kepercayaan dengan nilai modern, yakni memanfaatkan teknologi maju bidang pertanian.

"Nangluk merana misalnya, merupakan salah satu kegiatan ritual digelar petani yang terhimpun dalam wadah subak, jika tanaman pertanian terserang hama penyakit," kata Prof windia, dosen senior Fakultas Pertanian Unud di Denpasar Rabu.

Ia mengatakan, kegiatan ritual tersebut diyakini mampu mengendalikan hama penyakit yang dipandang membahayakan tanaman pertanian. Kegiatan ritual itu untuk mengendalikan atau membatasi segala bentuk perusak di sawah.

Dengan demikian hama penyakit tidak merugikan petani secara ekonomi. Petani menerapkan pengendalian hama terpadu (nilai modern) yang dianjurkan oleh Pemerintah dalam perlindungan budidaya tanaman di sawah.

Prof Windia menambahkan, pengendalian hama terpadu yang dilakukan petani anggota subak dengan menerapkan metode pengendalian yang ada dalam satu kesatuan rencana sedemikian rupa.

Dengan demikian populasi hama dapat ditekan secara maksimal sehingga tidak mengganggu tanaman petani, secara ekonomis tidak kerugikan, dan kuantitas produksi dapat dipertahankan berdasarkan perhitungan ekonomi, sekaligus tetap menjaga kelestarian lingkungan.

"Jika dicermati, makna yang terkandung dalam `Nangluk Merana` (nilai tradisiona) sejalan dengan makna yang terkandung dalam konsep pengendalian hama terpadu yang merupakan nilai modern," ujar Windia.

Kedua nilai tersebut bukan bertujuan memusnahkan atau memberantas habis hama penyakit tanaman, namun membatasi hama tanaman agar tidak menjadi musuh atau ancaman yang bisa menimbulkan kerugian bagi petani.

Oleh sebab itu kedua pengendalian sama-sama bertujuan mempertahankan kelestarian alam lingkungan, namun produksi pertanian dapat ditingkatkan, sekaligus memberikan kesejahteraan kepada umat manusia, khususnya petani, ujar Windia.(I006/K004)

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2010