Biden tuduh Trump bungkam ihwal "diktator" di Belarus

Biden tuduh Trump bungkam ihwal "diktator" di Belarus

Diapit oleh Secret Service, calon presiden Amerika Serikat dari Demokrat Joe Biden berbicara kepada wartawan saat berkampanye pada hari Buruh di Lancaster, Pennsylvania, Amerika Serikat, Senin (7/9/2020). REUTERS/Kevin Lamarque/foc/cfo (REUTERS/KEVIN LAMARQUE)

Namun Presiden Trump menolak berbicara menentang tindakan Lukashenka atau memberikan dukungan pribadinya bagi gerakan pro demokrasi
Washington (ANTARA) - Calon presiden dari Demokrat Joe Biden pada Jumat mencemooh Presiden Donald Trump karena tak berbicara tentang penindasan terhadap protes demokratis di Belarus, satu negara yang dia sebut sedang diperintah oleh seorang "diktator".

Lebih dari 12.000 orang ditangkap, dan ratusan masih dipenjara, sejak Presiden Alexander Lukashenko diumumkan menang telak dalam pemilihan presiden 9 Agustus. Kelompok oposisi di negara bekas Soviet itu menilai hasil pilpres itu .penuh kecurangan.

Dalam pernyataan yang dikirim kepada Reuters lewat surel, Biden berpihak pada ekspresi kebebasan damai para demonstran dan menuntut pemilu diulangi.

Biden, mantan wapres dan ketua Komisi Hubungan Luar Negeri di Senat yang berselisih dengan Rusia mengenai Eropa timur, juga menuntut pembebasan terhadap beberapa orang yang merupakan pemimpin oposisi yang disebutnya "para tahanan politik".

"Namun Presiden Trump menolak berbicara menentang tindakan Lukashenka atau memberikan dukungan pribadinya bagi gerakan pro demokrasi," kata Biden, menggunakan ejaan alternatif pada nama politisi Belarus itu.

Lukashenko secara tiba-tiba dikukuhkan pada Rabu dalam apa yang Biden sebut sebagai suatu "upacara palsu," pada hari yang sama di AS didominasi oleh berita penolakan Trump menyerahkan alih kekuasaan secara damai andaikan dia kalah dalam pilpres melawan Biden pada 3 November.

"Seorang presiden yang menyembunyikan ketakutan dari warganya sendiri, menolak menerima kemauan rakyat adalah pertanda kelemahan, otokrat tak sah, bukan seorang pemimpin yang kuat," kata Biden.

Trump dan Biden dijadwal bertemu untuk debat pertama mereka pada Selasa. Topiknya antara lain "ras dan kekerasan di kota-kota kita." kata panitia.

Keduanya telah berselisih soal apakah unjuk rasa massal di AS atas kekerasan polisi terhadap orang-orang berkulit hitam sebagian besar berlangsung damai atau apakah mereka perlu dihadapi dengan kekuatan militer, dengan Trump menyebut diri sebagai presiden (yang menegakkan) "hukum dan tatanan".

Juru bicara kampanye presiden Trump merujuk permintaan tanggapan ke Gedung Putih, yang tak segera menanggapi.

Komentar-komentar dari Biden akan tampak memperlihatkan sedikit sinyal penundaan bagi Lukashenko, 66, yang kini bergantung pada pasukan keamanan dan sekutu Rusianya untuk mempertahankan cengkeramannya pada kekuasaannya selama 26 tahun. Dia menolak kecaman itu.

AS, Inggris dan Kanada diperkirakan menerapkan sanksi segera pada individu-individu Belarusia atas apa yang negara-negara itu pandang sebagai pemilu curang dan kekerasan terhadap pemrotes damai, kata sumber yang tahu masalah itu kepada Reuters.

Biden berjanji "mempertahankan nilai-nilai demokratis kami dan memihak pada mereka yang menjalankan nilai-nilai itu" dalam pernyataannya tapi tak merinci tahap-tahap kebijakan yang akan diambil pemerintahannya terhadap Belarus.

Sumber: Reuters

Baca juga: Uni Eropa: Alexander Lukhashenko bukan presiden sah Belarus

Baca juga: Lukashenko dilantik tiba-tiba, oposisi serukan lebih banyak protes

 

Penerjemah: Mulyo Sunyoto
Editor: Fardah Assegaf
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Trump bergegas menjual sewa minyak Alaska, sebelum Biden berkuasa

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar