Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah menyebut longsor di Perkebunan Teh Dewata, Desa Tenjolaya, Pasirjambu, Ciwidey, adalah akibat penggundulan hutan di sekitar situ sehingga perusahaan yang beroperasi di lahan itu mesti bertanggungjawab.

"Ciwidey itu tanggung jawab perusahaan, perlu penyelidikan mengapa itu sampai terjadi. Saya melihat itu kemarin bersama (Wakil Presiden) Boediono. Semuanya kebun teh, bisa jadi akibat penggundulan hutan," tegas Menko Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Kamis,

Pada Rabu 24 Februari 2010, Agung bersama Wakil Presiden Boediono meninjau langsung lokasi tanah longsor itu.

Agung menyatakan, pemerintah perlu membentuk tim investigasi guna menyelidiki penyebab musibah tanah longsor itu, salah satunya untuk mengetahui apakah ada faktor kesalahan manusia di balik musibah itu.

"Perlu investigasi, tim investigasi perlu dibentuk, mungkin kepolisian. Apakah ada faktor `human error`, kalau ada harus bertanggungjawab," ujarnya.

Agung berjanji akan segera membicarakan pembentukan tim investigasi ini bersama dengan menteri-menteri terkait untuk dilaporkan kepada Presiden.

Namun, yang dilakukan pemerintah saat ini adalah memindahkan pemukiman penduduk ke lokasi lebih aman.

Hingga Rabu, korban meninggal dunia akibat tanah longsor adalah 19 orang dari 43 nama yang dilaporkan hilang. Longsir menimpa perkebunan teh Dewata yang dikelola PT Cakra, Selasa (23/2) pukul 08.00 WIB.

25 rumah, 1 kantor perkebunan, 1 koperasi, 1 gedung olah raga, 1 masjid, dan 1 aula pertemuan, dikubur oleh longsor itu. (*)

D013/AR09

Pewarta:
Editor: Jafar M Sidik
Copyright © ANTARA 2010