Jakarta (ANTARA News) - Kementerian Agama akan memverifikasi arah kiblat di masjid-masjid seluruh Indonesia untuk menghindari kemungkinan ketidakakuratan arah kiblat seperti diduga selama ini, demikian Sekjen Kementrian Agama Bahrul Hayat pada sosialisasi Arah Kiblat Tingkat Nasional di Jakarta, Senin.

"Secara bertahap, semua masjid di Indonesia akan dilakukan verifikasi arah kiblat. Caranya dengan mengubah shaf, sedangkan yang akan membangun masjid supaya berkoordinasi dengan Kementrian Agama setempat," jelas Bahrul Hayat.

Menurut Bahrul, pengukuran ulang arah kiblat masjid maupun musola tidak dipungut biaya, karena ditanggung Kementrian Agama.

Kementrian Agama menilai, arah kiblat antarmasjid di Indonesia masih berbeda satu sama lain, sekitar 20 derajat bahkan lebih.

Bahrul melanjutkan, bagi masjid dan musola yang belum diverifikasi arah kiblatnya, jamaah tetap diperkenankan shalat seperti biasa dan tidak perlu galau.

Ketidakakuratan arah kiblat masjid dan mushalla, bukan karena kesalahan masyarakat, namun karena faktor keterbatasan peralatan dan teknologi yang semakin maju.

Jadi, arah kiblat yang ditetapkan oleh para ulama dan tokoh agama selama ini sudah sesuai dengan kondisi ilmu falaq dan peralatan yang ada.

"Sekarang ini kemajuan zaman dan ilmu pengetahuan serta canggihnya peralatan telah memberikan kemudahan bagi manusia untuk menentukan posisi yang tepat mengarah ke arah Kabah," ujar Bahrul.

Ia menambahkan, pada 27 atau 28 Mei jam 16:18 Wib, dan 15 atau 16 Juli jam 16:28 Wib, posisi matahari tepat berada di atas Ka`bah sehingga bayang-bayang benda di permukaan bumi pada jam tersebut mengarah ke Ka`bah.

"Jika arah tersebut telah kita temukan, berdasarkan hasil ilmu pengetahuan dan teknologi. Maka hasil tersebut merupakan ijtihad yang wajib dipergunakan," ujarnya.

Ia mengatakan, kompas kiblat yang tersebar di masyarakat, meski memudahkan, kurang tepat sehingga tidak perlu digunakan lagi. (*)

D009/Z003/AR09

Pewarta:
Editor: Jafar M Sidik
Copyright © ANTARA 2010