Minyak jatuh akibat kekhawatiran permintaan, catat rugi bulanan kedua

Minyak jatuh akibat kekhawatiran permintaan, catat rugi bulanan kedua

Pelabuhan minyak Marsa al Hariga di Kota Tobruk, Libya. ANTARA/REUTERS/Ismail Zitouny/aa.

Untuk bulan ini, WTI merosot 11 persen, sementara Brent jatuh 10 persen
New York (ANTARA) - Harga minyak jatuh lagi pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), memperpanjang penurunan tajam hari sebelumnya dan membukukan penurunan bulanan kedua berturut-turut karena meningkatnya kasus COVID-19 di Eropa dan Amerika Serikat meningkatkan kekhawatiran atas prospek konsumsi bahan bakar.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Desember turun 19 sen menjadi menetap di 37,46 dolar AS per barel, setelah menyentuh level terendah lima bulan di 36,64 dolar AS di sesi sebelumnya. Kontrak Brent bulan depan berakhir pada Jumat dan kontrak Januari turun 32 sen.

Minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk penyerahan Desember berkurang 38 sen menjadi ditutup pada 35,79 dolar AS per barel, setelah turun ke level terendah sejak Juni pada Kamis (29/10/2020) di 34,92 dolar AS.

Untuk bulan ini, WTI merosot 11 persen, sementara Brent jatuh 10 persen.

Baca juga: Minyak terus merosot hingga 4 persen karena penguncian baru COVID-19

Para pemimpin di Prancis dan Jerman telah memerintahkan negara mereka untuk kembali ke dalam penguncian, ketika gelombang besar kedua infeksi virus corona mengancam akan membanjiri Eropa sebelum musim dingin.

Amerika Serikat juga menghadapi lonjakan kasus, memecahkan rekor infeksi baru satu hari.

"Banyak negara dengan konsumsi minyak yang tinggi di seluruh dunia melihat tingkat infeksi yang tidak mereka alami bahkan selama gelombang pertama," kata Paola Rodriguez-Masiu, analis pasar minyak senior Rystad Energy, dikutip dari Reuters.

"Tingkat infeksi ini akan menggigit permintaan minyak, karena lalu lintas akan dibatasi seminimal mungkin selama penguncian mendatang."

Sementara itu, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya termasuk Rusia, kelompok yang dikenal sebagai OPEC+, telah merencanakan untuk meningkatkan produksi sebesar dua juta barel per hari (bph) pada Januari.

Namun, produsen utama Arab Saudi dan Rusia mendukung untuk mempertahankan pengurangan produksi kelompok saat ini sekitar 7,7 juta barel per hari hingga tahun depan dalam menghadapi penguncian di Eropa dan peningkatan produksi minyak Libya.

OPEC+ dijadwalkan mengadakan pertemuan kebijakan pada 30 November dan 1 Desember.

"Hasilnya, berpotensi untuk mengirim harga minyak 10 dolar AS per barel di kedua arah," kata analis PVM tentang pertemuan tersebut.

Di Amerika Serikat, jumlah rig minyak dan gas alam naik pada Oktober untuk bulan ketiga berturut-turut dan pengebor menambahkan rig terbanyak dalam sebulan sejak Mei 2018, kata perusahaan jasa energi Baker Hughes Co pada Jumat (30/10/2020).

Baca juga: Emas "rebound", saat reli dolar AS terhenti dan kasus virus meningkat
Baca juga: Minyak jatuh karena kekhawatiran virus corona dan produksi AS melonjak

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

KPBB menilai harga BBM terlalu mahal

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar