Banda Aceh (ANTARA News) - Aktivitas belajar-mengajar di Kecamatan Teupah Selatan, Kabupaten Simeulue, Provinsi Aceh masih diliburkan, karena para pelajar masih mengungsi di lokasi yang jauh dari pantai.

Sekretaris Panglima Laot (lembaga adat laut) Kecamatan Teupah Selatan, Irfanuddin saat dihubungi dari Banda Aceh, Kamis, menyatakan, anak-anak belum berani ke sekolah dan mereka masih mengungsi bersama orang tuanya ke lokasi yang jauh dari pantai.

Kecamatan Teupah Selatan merupakan kawasan nelayan yang berhadapan langsung dengan pusat gempa yang terjadi Rabu (7/4) pukul 05:15 WIB dengan kekuatan 7,2 SR.

Kondisi di pesisir pantai saat ini masih sepi, rumah-rumah penduduk terkunci, termasuk sekolah-sekolah mulai dari TK sampai SMA.

Hampir sebagian besar masyarakat di Kecamatan Teupah Selatan mengungsi ke tempat saudara mereka yang berada jauh dari kawasan pantai.

"Sekarang ini masyarakat, terutama anak-anak dan wanita belum berani pulang. Hanya sejumlah laki-laki yang berada di kawasan pantai untuk berjaga-jaga di rumah warga," katanya.

Irfanuddin yang juga Ketua Partai Pemuda Indonesia Kecamatan Teupah Selatan itu menyatakan, warga masih takut untuk pulang ke rumah, karena ada kabar masih akan terjadi gempa susulan, sehingga mereka takut air laut naik.

Selain itu, warga juga tidak berani tidur di rumah, karena tembok atau dinding rumah mereka banyak yang retak, sehingga khawatir akan rubuh apabila ada gempa susulan, katanya.

Jaringan listrik juga belum berfungsi, karena tiang-tiang penyanggah banyak yang rubuh akibat gempa.

Ia menyatakan, hari ini petugas PLN juga mulai memperbaiki jaringan listrik dengan mendirikan lagi tiang-tiang yang rubuh.

"Kita berharap pada malam ini listrik di daerah ini bisa nyala kembali," katanya.

Mengenai bantuan, menurut Irfanuddin, hingga saat ini belum ada, terutama tenda darurat dan makanan pokok.

"Mungkin karena jauh dari Sinabang (ibukota Simeulue) maka bantuan agak terlambat. Kita harapkan hari ini sudah ada," katanya. (H011/R014)

Pewarta:
Editor: Aditia Maruli Radja
Copyright © ANTARA 2010