Kemah budaya kaum muda batu pijakan pemajuan kebudayaan

Kemah budaya kaum muda batu pijakan pemajuan kebudayaan

Purwarupa fisik berbentuk board game "Gabud" yang ditunjukkan oleh kelompok Tabik Pun dalam Kemah Budaya Kaum Muda di Kompleks Candi Prambanan, Yogyakarta tahun 2019. ANTARA/Aubrey Fanani

"Di luar dugaan terdapat 717 kelompok atau total tercatat 3450 orang sebagai pendaftar kategori aplikasi maupun prakarya, jadi animonya sangat luar biasa,"...
Jakarta (ANTARA) - Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hilmar Farid mengatakan Kemah Budaya Kaum Muda (KBKM) merupakan batu pijakan bagi generasi muda dalam rangka pemajuan kebudayaan.

"Pemberian apresiasi ini bukanlah akhir dari sebuah perjalanan untuk semua peserta, namun masih menjadi jalan panjang. Saya berharap karya yang dihasilkan bisa berkontribusi bagi upaya untuk memajukan kebudayaan untuk masyarakat luas," ujar Hilmar dalam keterangannya di Jakarta, Senin.

Dia menambahkan kegiatan KBKM pada 2020 diselenggarakan ditengah pandemi. Oleh karenanya metode yang diselenggarakan pun secara daring dan luring.

Dalam pelaksanaan tingkat regional, implementasi kegiatan bekerja sama dengan unit pelaksana teknis (UPT) Ditjen Kebudayaan dan pemerintah daerah.

"Di luar dugaan terdapat 717 kelompok atau total tercatat 3450 orang sebagai pendaftar kategori aplikasi maupun prakarya, jadi animonya sangat luar biasa," jelas Direktur Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan (PTLK), Ditjen Kebudayaan, Kemendikbud, Judi Wahjudin.
Baca juga: Mendikbud: Kemah budaya jadi tempat berkolaborasi

Judi Wahjudin menerangkan proses kompetisi di mana peserta yang telah melakukan registrasi diseleksi secara berjenjang melalui seleksi administrasi dan seleksi substansi.

Berdasarkan tahapan tersebut, total ada 2.420 orang yang berasal dari tujuh regional berhasil lolos seleksi. Peserta yang lolos, masuk ke dalam 584 kelompok. Terdiri dari 334 kelompok kategori aplikasi dan 250 kelompok kategori prakarya.

Pada tanggal 12 - 13 November 2020 para peserta yang terpilih melakukan presentasi dan pameran hasil karyanya. Selanjutnya, masuk pada tahap penjurian tingkat nasional yang selesai pada tanggal 14 November.

Adapun kriteria penilaian diantaranya: kebermanfaatan, substansi budaya, kekompakan tim, potensi investasi dan bagaimana cara menyajikan materi secara produk maupun verbal.

Berdasarkan serangkaian proses seleksi, diputuskan pemenang untuk kategori aplikasi.
Baca juga: KBKM pilih 12 solusi terbaik untuk pemajuan kebudayaan

Untuk juara satu diraih oleh Amogasakti dari regional Yogyakarta II, juara dua diraih oleh Bhakti Indonesia Traya dari regional Bali, Kalimantan, Sulawesi Utara, Maluku, dan Papua; serta juara tiga diraih oleh Patih Sampun dari regional Yogyakarta I.

Untuk pemenang kategori prakarya, juara satu diraih oleh Teman Bocil dari regional Jawa Barat, juara dua diraih oleh Nucalale dari regional Bali, Kalimantan, Sulawesi Utara, Maluku, dan Papua; serta juara tiga diraih oleh Keuneubah Indatu dari regional Aceh dan Kepri.

Para pemenang mendapatkan piagam penghargaan dan uang tunai pembinaan.

"KBKM tahun ini juga didokumentasikan secara virtual dengan kamera 360 derajat dan interactive show berbasis augmented reality, yang nantinya hasil tersebut akan dikombinasikan dan ditayangkan melalui platform Ditjen Kebudayaan sehingga masyarakat luas dapat menikmati," jelas Judi.
Baca juga: Menjawab permasalahan budaya berlandaskan STEAM

Pewarta: Indriani
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Dua Kementerian keluarkan SKB kebudayaan dan ekonomi kreatif khusus masa pandemi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar