Satgas: Vaksin belum tentu 100 persen lindungi masyarakat

Satgas: Vaksin belum tentu 100 persen lindungi masyarakat

Koordinator Tim Pakar sekaligus Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito. ANTARA/Muhammad Zulfikar/am.

kita harus punya perlindungan berlapis
Jakarta (ANTARA) - Koordinator Tim Pakar sekaligus Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito mengatakan vaksin belum tentu 100 persen bisa melindungi atau menjamin seluruh masyarakat.

"Dengan adanya vaksin tidak serta merta perlindungan lainnya kita tinggalkan, karena bisa saja nanti bobol," kata dia pada diskusi virtual dengan tema "Napas panjang penanganan CCVID-19"
yang dipantau di Jakarta, Jumat.

Oleh karena itu, perilaku 3M yakni memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan harus tetap dan wajib dilakukan masyarakat agar tidak tertular COVID-19.

Saat ini, ujar Wiku, perhatian masyarakat sedang tertuju pada vaksin Sinovac asal China yang baru tiba. Sebagian masyarakat beranggapan COVID-19 akan selesai dengan adanya vaksin.

Padahal, pengalaman itu sama sekali belum terjadi sebab masih dalam kondisi pandemi COVID-19. Oleh sebab itu, masyarakat harus melihat vaksin merupakan salah satu tameng atau perlindungan untuk tubuh.

"Jadi kita harus punya perlindungan berlapis dan vaksin merupakan salah satu perlindungan," katanya.

Baca juga: Relawan Vaksin COVID-19 jalani enam kali kunjungan

Baca juga: Menristek: Uji klinis Vaksin Merah Putih dipercepat

Selain penerapan 3M dan penggunaan vaksin bila telah keluar izin dari BPOM dan MUI, peningkatan imun tubuh dengan olahraga teratur serta istirahat yang cukup juga harus tetap dilakukan.

"Olahraga jangan ditinggalkan meskipun sudah ada vaksin," ujar prof Wiku.

Pemerintah saat ini masih mempelajari secara mendalam apakah vaksin yang telah tiba mampu atau efektif memproteksi diri 100 persen dari virus corona atau COVID-19.

Terakhir, ia berharap selama 10 bulan masyarakat berjuang melawan pandemi COVID-19 yang disertai penerapan kebiasaan protokol kesehatan terus dilakukan secara kontinu dan kolektif.

"Itu adalah proses belajar yang lama dan harusnya masyarakat sudah pintar dan terbiasa," ujar dia.

Baca juga: Dokter: Protokol kesehatan wajib diterapkan meski vaksin sudah datang

Baca juga: Menristek: 3 institusi potensi serahkan bibit vaksin triwulan I 2021

Pewarta: Muhammad Zulfikar
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Vaksin AstraZeneca batch ketiga tiba di Indonesia

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar