Gunakan vaksin yang ada dan efikasi di atas 50 persen

Gunakan vaksin yang ada dan efikasi di atas 50 persen

Tangkapan layar vaksinolog sekaligus dokter spesialis penyakit dalam dr Dirga Sakti Rambe. ANTARA/Muhammad Zulfikar

Perlu diingat tingkat keberhasilan suatu vaksin melalui uji klinis di sebuah negara bisa berbeda-beda.
Jakarta (ANTARA) - Vaksinolog sekaligus dokter spesialis penyakit dalam dr Dirga Sakti Rambe mengajak masyarakat dan semua pihak agar menggunakan vaksin COVID-19 yang sudah ada dan telah memperoleh izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta memiliki efikasi di atas 50 persen sesuai standar WHO.

"Mungkin orang akan berpikir vaksin yang paling mendekati keberhasilan 100 persen untuk digunakan, apakah betul begitu? Tidak," kata dia saat diskusi daring yang dipantau di Jakarta, Jumat.

Seperti diketahui, lanjut dia, tingkat keberhasilan vaksin Pfizer 95 persen, Moderna 90 persen dan Sinovac hari ini di Brazil 78 persen.

Perlu diingat tingkat keberhasilan suatu vaksin melalui uji klinis di sebuah negara bisa berbeda-beda.

"Beda orang, beda negara, beda desainnya sehingga kita tidak bisa mengatakan vaksin A lebih bagus dari vaksin B kalau belum dibandingkan dalam satu penelitian yang sama," kata dia.
Baca juga: Vaksin yang lolos uji klinis aman dan efektif
Baca juga: Dokter anjurkan penyintas COVID-19 tetap lakukan vaksin


Oleh sebab itu, pesan penting saat ini ialah menggunakan vaksin apapun yang lebih dulu tersedia selama vaksin tersebut mengantongi izin dari BPOM.

Apalagi, saat ini kondisi pandemi COVID-19 di Tanah Air belum menunjukkan penurunan. Bahkan, hari ini kasus COVID-19 yang diumumkan Satuan Tugas Penanganan COVID-19 menembus 10.617 kasus.

Terkait individu yang memiliki riwayat asam lambung, alergi, gangguan tiroid, asma, autoimun dan sebagainya maka tidak perlu khawatir. Sebab, sebelum divaksin vaksinator terlebih dahulu akan menanyakan atau memeriksa kondisi kesehatan laik atau tidak divaksin.

"Jadi jangan pusing, jika menerima undangan vaksinasi datang saja dulu," ujarnya.

Meskipun demikian, ia membenarkan terdapat kelompok masyarakat yang tidak bisa divaksin misalnya penderita darah tinggi, autoimun dan sakit ginjal.

"Kenapa tidak bisa? Sekali lagi kita mengedepankan prinsip kehati-hatian," ujar dr Dirga.
Baca juga: Kendala vaksinasi di ketersediaan vaksin, bukan mekanisme

Pewarta: Muhammad Zulfikar
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Hoaks atau Benar - Pemprov DKI pakai Rp160 M pulangkan Rizieq dari Arab? Vaksin Pfizer sebabkan wanita mandul?

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar