Saham Asia mundur, tunggu data terbaru ekonomi China

Saham Asia mundur, tunggu data terbaru ekonomi China

Logo MSCI. ANTARA/REUTERS.

Indeks MSCI dari saham Asia-Pasifik yang lebih luas di luar Jepang kehilangan 0,3 persen
Sydney (ANTARA) - Pasar saham Asia mundur dari tertinggi pada Senin pagi karena berita mengecewakan tentang belanja konsumen AS mengurangi sentimen risiko menjelang rilis data tentang kesehatan ekonomi China yang dipantau secara ketat.

Juga terbukti ada keraguan tentang seberapa banyak paket stimulus Presiden terpilih AS Joe Biden akan berhasil melewati Kongres mengingat oposisi dari Partai Republik, dan risiko lebih banyak kekerasan massa pada pelantikannya pada Rabu (20/1/2021).

Indeks MSCI dari saham Asia-Pasifik yang lebih luas di luar Jepang kehilangan 0,3 persen setelah mencapai serangkaian rekor puncak dalam beberapa pekan terakhir. Nikkei Jepang tergelincir 1,0 persen dan menjauh dari level tertinggi dalam 30 tahun.

Baca juga: Saham Tokyo ditutup turun karena aksi ambil untung setelah 5 hari naik

E-Mini berjangka untuk S&P 500 merosot 0,3 persen, meskipun Wall Street akan ditutup pada Senin untuk hari libur nasional.

Data PDB China diperkirakan menunjukkan pertumbuhan meningkat menjadi 6,1 persen secara tahunan di kuartal terakhir, dari 4,9 persen pada kuartal ketiga. Angka bulanan pada penjualan ritel dan output industri akan menunjukkan aktivitas yang lebih cepat di akhir tahun.

"Kami memperkirakan pertumbuhan PDB China kuartal keempat menjadi lebih cepat di atas konsensus 6,5 persen per tahun karena output industri yang kuat, pemulihan dalam jasa dan ekspor yang kuat," kata Joseph Capurso, kepala ekonomi internasional di CBA, dikutip dari Reuters.

"Data tersebut akan mengonfirmasi ekonomi China mengakhiri tahun dengan pijakan yang kuat."

Baca juga: Saham China ditutup bervariasi Jumat

Itu akan sangat kontras dengan AS dan Eropa di mana penyebaran virus corona telah merusak pengeluaran konsumen, yang digarisbawahi oleh penjualan ritel AS yang suram yang dilaporkan pada Jumat (15/1/2021).

"Data tersebut mempertanyakan ketahanan dari kenaikan imbal hasil obligasi baru-baru ini dan kenaikan kompensasi inflasi," kata analis di ANZ dalam sebuah catatan.

"Ada banyak kabar baik seputar vaksin dan stimulus yang dihargakan dalam ekuitas, tetapi optimisme sedang ditantang oleh kenyataan sulitnya beberapa bulan ke depan," mereka memperingatkan. "Risiko di seluruh Eropa adalah bahwa penguncian akan diperpanjang, dan kasus di AS dapat meningkat tajam saat varian COVID Inggris menyebar."

Itu akan menempatkan fokus pada panduan laba dari hasil perusahaan minggu ini, yang meliputi BofA, Morgan Stanley, Goldman Sachs dan Netflix.

Data AS yang buruk membantu obligasi pemerintah AS mengurangi beberapa kerugian tajam baru-baru ini dan imbal hasil obligasi 10 tahun diperdagangkan pada 1,087 persen, turun dari puncak pekan lalu 1,187 persen.

Suasana yang lebih tenang pada gilirannya mendorong dolar AS sebagai safe-haven, menarik pasar bearish yang sangat singkat. Spekulan meningkatkan posisi jangka pendek bersih dolar mereka ke yang terbesar sejak Mei 2011 pada pekan yang berakhir 12 Januari.

Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya, menguat ke 90,837, dan menjauh dari terendah 2,5 tahun terakhir di 89,206.

Euro telah mundur ke 1,2068 dolar, dari puncak Januari di 1,2349 dolar, sementara dolar tetap stabil di 103,93 yen dan jauh di atas level terendah baru-baru ini di 102,57 yen.

Baca juga: Data ritel dan penguncian tekan saham dan minyak, dolar menguat

Pilihan Biden untuk Menteri Keuangan, Janet Yellen, diperkirakan mengesampingkan pencarian dolar yang lebih lemah ketika bersaksi di Capital Hill pada Selasa (19/1/2021), Wall Street Journal melaporkan.

Harga emas tergerus oleh kenaikan dolar yang menyebabkan logam turun pada 1.812 dolar per ounce, dibandingkan dengan level tertinggi Januari di 1.959 dolar.

Harga minyak mengalami aksi ambil untung di tengah kekhawatiran perluasan penguncian yang semakin ketat secara global akan mengganggu permintaan.

Minyak mentah berjangka Brent turun 12 sen menjadi 54,98 dolar per barel, sementara minyak mentah AS turun 11 sen menjadi 52,25 dolar.

Baca juga: Wall Street ditutup melemah terseret penurunan saham bank dan energi

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Ada stimulus bagi investor untuk gairahkan pasar modal

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar