Artikel

Bertahan tetap kreatif selama pandemi

Oleh Arindra Meodia & Natisha Andarningtyas

Bertahan tetap kreatif selama pandemi

Ilustrasi - ecommerce (Pixabay)

Jakarta (ANTARA) - Zornia Harisantoso mengingat tahun lalu dia bersama tim harus mengambil keputusan besar untuk perhelatan yang sudah rutin digelar selama lebih dari 10 tahun, Jakarta Fashion Week 2021.

Menurut Zornia, dia harus banyak melakukan perubahan dan format ulang untuk berbagai rencana dan jadwal dari yang sudah ditetapkan.

Jakarta Fashion Week sudah digelar sejak 2008 lalu, biasanya setiap bulan Oktober, berisi koleksi yang diperkirakan akan "in" untuk tahun berikutnya.

Selama satu pekan penuh, JFW membuat runway, beberapa tahun belakangan ini berlangsung di Senayan City, yang dihadiri para pelaku industri kreatif.

Jakarta Fashion Week juga berusaha beradaptasi dengan perkembangan zaman, setelah marak menonton lewat gawai, mereka juga beberapa kali menyiarkan acara pagelaran busana di platform media sosial.

Baca juga: MIKTI siapkan inkubasi daring "startup" siasati pandemi

Baca juga: Optimisme pendanaan startup di tengah pandemi


Zornia tidak mengira bahwa untuk gelaran JFW tahun 2020 harus sepenuhnya diadakan secara online karena tidak mungkin mengadakan pagelaran busana yang ditonton banyak orang, di tengah pembatasan aktivitas di luar rumah.

Aktivitas sepenuhnya harus disokong internet juga dirasakan manajemen komika Hahaha Corp, untuk sementara waktu mereka tidak mengadakan stand up comedy, baik secara langsung maupun virtual.

"Sejak Januari 2020 kami sudah memikirkan (pandemi virus corona), melihat negara lain juga. Beruntungnya, 'talent' kami 'based on digital'," kata pendiri Hahaha Corp, Dipa Andika.

Teknologi memang sudah menjadi makanan sehari-hari bagi para pelaku industri kreatif, sebagian besar dari mereka mungkin sudah tidak asing lagi menggunakan gawai untuk bekerja.

Para pembuat konten video contohnya, adalah hal yang lazim bagi mereka merekam video untuk keperluan profesional hanya berbekal ponsel pintar.

Pandemi virus corona tidak hanya membuat orang bergantung lebih banyak pada teknologi, para pelaku industri kreatif juga harus menyajikan hal-hal yang baru, misalnya menghadirkan pengalaman layaknya melihat langsung hanya saja lewat gawai.

Putar otak
Melakukan berbagai hal lewat gawai hanya bisa terwujud jika memiliki koneksi internet yang memadai.

Pegiat media sosial, Enda Nasution, memperkirakan tahun ini penggunaan internet akan lebih masif, semakin banyak orang yang menyadari bahwa mereka membutuhkan internet dalam kegiatan sehari-hari.

"Sebelumnya, nggak merasa internet itu sebuah keharusan. Tapi, karena sekolah harus pakai internet, lalu perdagangan juga ditutup, akhirnya harus lewat internet," kata Enda.

Adaptasi mendadak ini, mau tidak mau, suka tidak suka, harus dilakukan, agar kreativitas tidak padam dan tetap bertahan di industri kreatif.

Meski pun sudah pernah menyiarkan fashion show secara streaming, Zornia baru benar-benar menyadari pengalaman menonton pagelaran busana yang diharapkan tahun ini berbeda. Secara jumlah show yang diadakan di Jakarta Fashion Week menyusut jadi 16 dari tahun sebelumnya 78 show.

Tahun-tahun sebelumnya, JFW hanya menaruh kamera dari sudut tertentu untuk siaran langsung di media sosial. Tahun ini, siaran langsung tidak mungkin untuk menunjukkan busana yang diperagakan, apalagi penonton pagelaran busana biasanya pegiat mode yang tertarik untuk melihat hingga ke detail pakaian.

Baca juga: "Startup" diprediksi ramai gunakan "cloud" pada 2021

Baca juga: Siasat startup bertahan saat pandemi


Tim JFW 2021 harus merombak format siaran, yaitu dengan "tapping" kemudian menyiarkan di media sosial dan aplikasi pada November lalu.

Sementara Hahaha Corp, demi menjaga citra dan kualitas stand up comedy, mereka memilih untuk tidak mengadakan acara online, walaupun audiens bisa menonton langsung melalui konferensi video.

Stand up comedian membutuhkan penonton langsung untuk berinteraksi dengan mereka. Tak hanya interaksi, kehadiran penonton juga akan menjadi tolak ukur apakah lelucon mereka berhasil atau tidak.

Dipa merasakan pilihan yang ada saat ini belum bisa memberikan pengalaman yang mendekati menonton stand up comedy langsung.

"Nanti kita nggak bisa mendapatkan tawa langsung," kata Dipa.

Argumen Dipa bukan tanpa alasan, meski pun platform digital menawarkan audiens yang lebih luas untuk suatu acara.

Pengalaman mengikuti kegiatan virtual selama pandemi, atensi yang diberikan setiap orang belum tentu sama. Konferensi video mengizinkan kita untuk melakukan beberapa hal sekaligus, misalnya menonton konser virtual sambil bekerja dari rumah.

Untuk terus mempertahankan kreativitas mereka, Hahaha Corp memilih mengerjakan proyek konten, termasuk berkolaborasi dengan pelaku kreatif lainnya. Mulai tahun ini, mereka juga berencana untuk menghidupkan kanal YouTube dan secara reguler memperbarui konten.

Manfaatkan momentum
Sejak pandemi, Chief Growth Marketing Woobiz, Putri Noor Shaqina, mengatakan banyak brand UMKM yang bergabung dengan Woobiz karena tertarik dengan jaringan mitra yang dapat mendistribusikan produk mereka ke lebih banyak pelanggan dengan biaya marketing yang rendah.

Woobiz merupakan startup digital yang mengusung konsep sosial dengan memanfaatkan industri e-commerce untuk mendorong perempuan berwirausaha dengan memanfaatkan teknologi pada platformnya.

"Di tahun 2020, Woobiz berkembang dengan pesat. Pesanan kami meningkat lebih dari 10x dibanding tahun 2019. Mitra kami juga meningkat drastis, dari 2019 ada 1000 mitra, dan di 2020 ada lebih dari 10ribu mitra bergabung di Woobiz," ujar Putri.

Putri juga melihat keseriusan pemerintah dalam menggarap pembangunan jaringan internet nasional saat ini. Dia berharap jangkauan internet nasional terus dapat berkembang hingga pelosok daerah di Indonesia.

Baca juga: Startup kuliner Gibran & Kaesang dapat suntikan dana Rp29 miliar

Baca juga: Amazon akan akuisisi startup podcast Wondery

Dengan demikian, optimisme Woobiz untuk dapat berkembang 10 kali lipat dan menggandeng 100 ribu mitra pada tahun ini dapat tercapai.

Pemerintah Indonesia selama beberapa tahun belakangan pun membangun infrastruktur telekomunikasi untuk pemerataan akses internet, agar internet tak melulu hak istimewa bagi mereka yang tinggal di kota besar.

Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Johnny G Plate mengatakan pandemi COVID-19 menjadi momentum percepatan digitalisasi di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Tahun ini, Kementerian Kominfo menargetkan seluruh wilayah Indonesia tersambung ke jaringan telekomunikasi, termasuk seluruh wilayah pemukiman dan layanan publik untuk terhubung dengan sinyal 4G.

Kementerian Kominfo bekerjasama dengan penyedia telekomunikasi untuk menggelar infrastruktur konektivitas digital.

Indonesia juga akan meluncurkan High Throughput Sattelite SATRIA-1 pada 2023, yang dengan kapasitas 150 Gbps per detik, satelit tersebut diharapkan dapat menghasilkan konektivitas yang andal di seluruh pelosok negeri.

Sementara itu, survei Jumlah Pengguna dan Penetrasi Internet dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) untuk 2019 hingga kuartal kedua 2020 menunjukkan adanya kenaikan pengguna internet dibandingkan tahun sebelumnya.

Penetrasi internet di Indonesia tahun 2019 mencapai 73,7 persen, sementara pada 2018 sebesar 64,8 persen.

Artinya, tahun 2019 lalu, dari total jumlah penduduk Indonesia 266 juta jiwa, ada 196,7 juta yang menggunakan internet.

Sambil membangun infrastruktur, tidak kalah penting dalam era internet ini adalah bagaimana kemampuan individu dalam menggunakan internet, bagaimana internet, dan teknologi, bisa menambah keterampilan mereka, memberikan nilai lebih pada kegiatan mereka.

Dorongan untuk edukasi dan literasi digital penting dilakukan. Sehingga, jutaan pengguna internet dapat menggunakan dengan baik, sehingga memiliki dampak ekonomi, dibandingkan dengan hanya menambah pengguna baru.

Baca juga: Huawei: Pemanfaatan teknologi digital percepat pemulihan ekonomi

Baca juga: Startup akuakultur eFishery tunjuk mantan bos Gopay jadi komisaris

Baca juga: Startup sociopreneur lokal mulai fokus kembangkan gula aren

 

Oleh Arindra Meodia & Natisha Andarningtyas
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Ridwan Kamil luncurkan Desa Digital Parakan di Karawang

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar