Presiden Prancis: Barat harus sumbang vaksin COVID-19 ke Afrika

Presiden Prancis: Barat harus sumbang vaksin COVID-19 ke Afrika

Petugas kesehatan mendampingi pasien di dalam tenda yang dipasang di lapangan parkir Rumah Sakit Akademi Steve Biko, ditengah penguncian nasional akibat wabah penyakit virus corona (COVID-19), di Pretoria, Afrika Selatan, Senin (11/1/2021). ANTARA FOTO/REUTERS/Siphiwe Sibeko/HP/djo

Paris (ANTARA) - Presiden Prancis Emmanuel Macron, Jumat (19/2), mengatakan Eropa dan Amerika Serikat harus segera menyumbang vaksin COVID-19 ke Afrika sehingga negara-negara di benua itu dapat memvaksin tenaga kesehatannya.

Jika bantuan vaksin tidak segera diberikan, China dan Rusia akan segera merebut pengaruh negara-negara Barat di Afrika.

Macron pada minggu ini mendesak Eropa dan AS mengalokasikan lima persen dari total persediaan vaksinnya untuk negara-negara berkembang demi mencegah adanya kesenjangan vaksin antarnegara di dunia.

Presiden Macron, saat berbicara di Munich Security Conference setelah Presiden AS Joe Biden dan Kanselir Jerman Angela Markel, mengatakan langkah pertama yang harus dilakukan  ialah mengirim 13 juta dosis ke Afrika. Jumlah itu, menurut Macron, cukup untuk diberikan ke seluruh tenaga kesehatan di Afrika.

"Jika kita pada hari ini (tidak segera, red) mengalokasikan miliaran uang untuk mengirim dosis (vaksin, red) dalam waktu enam bulan, delapan bulan, satu tahun, maka teman kita di Afrika, yang terus mendapat tekanan dari rakyat, maka mereka akan membeli (vaksin, red) dari China dan Rusia," kata Macron ke para peserta konferensi di Munich, Jerman.

"Kekuatan Barat tidak hanya jadi sebuah konsep, tetapi jadi aksi nyata," ujar Macron.

Macron menyebut 13 juta dosis vaksin setara dengan 0,43 persen total vaksin yang dipesan oleh Eropa dan Amerika Serikat.

Kelompok tujuh negara kuat dunia (G7) pada Sabtu  (20/2) menegaskan dukungan mereka untuk negara-negara rentan, terutama terkait pengadaan vaksin.

Oxfam France mendesak negara-negara G7 untuk berhenti memonopoli vaksin dari perusahaan farmasi di negaranya masing-masing. Jika monopoli dihentikan, maka itu akan jadi cara "tercepat, teradil, dan terefektif untuk meningkatkan produksi vaksin sehingga negara-negara tidak perlu berebut vaksin," kata Oxfam sebagaimana dikutip dari pernyataan tertulisnya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Kamis (18/2) mendesak negara-negara yang memproduksi vaksin COVID-19 tidak hanya mengurusi kepentingan dalam negeri, tetapi juga menyumbangkan vaksin ke negara-negara miskin dan berkembang lewat kerja sama pengadaan vaksin dunia (COVAX).

Miliarder dan filantropis, Bill Gates, dalam konferensi yang sama, jika negara-negara mengambil langkah yang tepat maka kesenjangan vaksinasi COVID-19 antarnegara kaya dan berkembang dapat menyempit sampai enam bulan.
Baca juga: Uni Afrika sebut Rusia tawarkan 300 juta dosis vaksin Sputnik V
Baca juga: Zimbabwe terima 200 ribu dosis vaksin COVID-19 dari Sinopharm China



Sumber: Reuters

Penerjemah: Genta Tenri Mawangi
Editor: Suharto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar