The Panturas mainkan nada Melayu lewat lagu "Tafsir Mistik"

The Panturas mainkan nada Melayu lewat lagu "Tafsir Mistik"

Sampul lagu tunggal kedua The Panturas "Tafsir Mistik" (ANTARA/Ho)

Jakarta (ANTARA) - Awal Maret ini grup band The Panturas merilis lagu tunggal kedua bertajuk "Tafsir Mistik", yang mereka memainkan dengan nada Melayu dipadukan harmoni gitar musik Gipsi yang unik dan Arabik.

Pada lagu tunggal perdananya "Balada Semburan Naga" yang rilis akhir 2020 mereja mengawinkan melodi kolosal Mandarin dengan celotehan cablak tembang gambang kromong Betawi.

"Tafsir Mistik" menyuguhkan simfoni yang baru dan segar, The Panturas mengubah kebiasaan lama yang membawakan nomor-nomor surf rock bertempo cepat dengan menciptakan sesuatu yang relatif lebih lambat bahkan tergolong mendayu. Lagu ini juga termasuk salah satu karya The Panturas yang beritme paling pelan.

Baca juga: The Panturas mainkan instrumen lintas etnis di "Balada Semburan Naga"

"Buat kami ini gaya baru karena memainkan kord gitar yang terus berganti tangga nada. Dengan intro Melayu lalu di bagian tengah dimasukkan karakter musik Gipsi/Balkan. Kami tidak ingin menjadi monoton dengan menciptakan lagu-lagu surf rock yang puritan," ujar bassis Bagus 'Gogon' Patria melalui keterangan resminya pada Jumat.

Vokalis dan gitaris Abyan Zaki Nabilio atau Acin mengatakan terinspirasi dari Django Reinhardt, seorang pemain gitar gypsy-jazz asal Prancis yang tersohor di era paska Perang Dunia II dalam menulis lagu tersebut.

Ia mengaku terobsesi sehingga dorongan kreatif yang timbul dirasakan bersifat personal. Ia yang membuat kerangka dasar, berkutat dengan solo gitar dan juga memikirkan liriknya.

Acin mengatakan, melalui lagu ini bandnya memastikan kalau surf rock juga mampu menerabas batas-batas klasifikasi sebagai suatu genre musik.

Untuk lirik, Acin menggali keresahan yang tak kalah personal. Ia mengangkat problematika sosial, terutama dengan banyak bertebarannya para pemikir karbitan era sosial media.

"Yang merasa idealisme mereka paling benar. Tidak melihat kepada relativisme budaya bahwa benar atau salah itu tergantung dari kacamata kita masing-masing, bukan sesuatu hal yang mutlak. Daripada menghakimi, mendingan kita menghargai proses bagaimana mereka bisa mencapai pemahaman 'benar atau salah' tersebut," kata Acin.

Selain mencapai level baru dalam penulisan musik, rilisnya lagu ini juga menafsirkan misteri perihal album penuh kedua The Panturas yang digadang-gadang akan meluncur pada pertengahan 2021.

Akan menyusul juga dalam waktu dekat sebuah video musik yang bakal membuat keantikan lagu "Tafsir Mistik" terasa semakin hidup dalam pandangan visual.

"Kami akan merayakan keragaman budaya. Ibarat sebuah kapal yang tengah mengarungi archipelago Nusantara, musik yang tersaji nomadik jenisnya, dari Broadway sampai ke Semenanjung Arab. Fusion dari surf rock, punk, garage, waltz, Mandarin, Balkan, hingga ritmik Melayu," ujar Gogon.

Baca juga: Feel Koplo rilis versi remix "Gurita Kota" The Panturas

Baca juga: "This is My Wave Concert" episode ketujuh hadirkan The Panturas

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar