Mendag: Hasil referendum Swiss beri angin segar IE--CEPA

Mendag: Hasil referendum Swiss beri angin segar IE--CEPA

Dokumentasi - Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi. ANTARA/HO-Biro Humas Kemendag/pri.

Pemerintah Republik Indonesia sangat menghormati proses demokrasi yang ada di Swiss
Jakarta (ANTARA) - Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menyambut baik hasil referendum Swiss yang menyetujui kerja sama ekonomi komprehensif dengan Indonesia, di mana menunjukkan komitmen Swiss dalam mendukung terwujudnya kerja sama kedua negara dalam skema Indonesia–European Free Trade Association Comprehensive Economic Partnership Agreement (IE–CEPA).

“Saya mengucapkan selamat atas pelaksanaan referendum di Swiss pada 7 Maret 2021 terkait IE– CEPA, yang berjalan lancar dengan hasil positif. Pemerintah Republik Indonesia sangat menghormati proses demokrasi yang ada di Swiss, dan hasil referendum ini memberikan angin segar bagi implementasi IE–CEPA segera,” kata Mendag lewat keterangan resmi di Jakarta, Senin.

Hal itu disampaikan Mendag Lutfi secara khusus dalam pembicaraan melalui telepon dengan Head of Federal Department of Economic Affairs, Education and Research Swiss Guy Parmelin.

Guy optimistis hubungan dagang Indonesia dan Swiss akan meningkat dengan adanya IE–CEPA. Selain itu, pelaku usaha dan investor Swiss juga menyambut baik Undang-Undang Cipta Kerja.

Dalam pembicaraan telepon tersebut, keduanya menyambut baik rencana kerja sama di bidang keberkelanjutan (sustainability) antara lain lewat Indonesia–Swiss Economic Cooperation and Development Programme 2021-2024. Salah satu fokus kerja samanya yaitu terkait rantai nilai yang berkelanjutan (sustainable value chain).

Mendag Lutfi menyampaikan kesiapan Indonesia untuk bekerja sama dalam peningkatan perdagangan dan investasi di bawah payung IE– CEPA yang mengakui semangat kerja sama, saling menghargai, dan saling menguntungkan untuk produk andalan Indonesia, minyak sawit dan turunannya.

Dukungan mayoritas 51,6 persen pemilih atas IE–CEPA adalah kabar positif bagi hubungan perdagangan Indonesia dan Swiss, juga bagi integrasi ekonomi Indonesia dengan negara-negara EFTA.

Hasil referendum ini juga merupakan afirmasi Indonesia dan negara-negara EFTA untuk mengedepankan kerja sama, bukan mengutamakan kompetisi atau konfrontasi, termasuk dalam memperlakukan isu-isu keberkelanjutan. Lutfi lebih lanjut menekankan bahwa referendum ini memiliki makna khusus bagi upaya Indonesia dan Swiss untuk memastikan agar perdagangan yang terbuka dan adil menjadi pilar dalam perjanjian dagang. Swiss adalah mitra dagang dan ekonomi penting bagi Indonesia, begitu juga sebaliknya.

“Perdagangan kedua negara akan makin meningkat lagi,” ujar Mendag Lutfi.

Dengan diratifikasinya IE–CEPA oleh Swiss, Indonesia juga akan segera mempercepat proses ratifikasinya di DPR sehingga implementasi IE–CEPA dapat segera terlaksana. Indonesia dan negara-negara EFTA (Swiss, Norwegia, Islandia, dan Liechtenstein) berkomitmen meningkatkan perdagangan demi pemulihan ekonomi, termasuk peningkatan investasi dan mendukung industrialisasi di Indonesia.

Perjanjian IE–CEPA sendiri telah ditandatangani pada 16 Desember 2018 di Jakarta.

Dari sisi ekspor nonmigas, pada 2020 ekspor Indonesia ke EFTA mencapai 2,45 miliar dolar AS dan impor dari EFTA tercatat sebesar 830 juta dolar AS. Kondisi tersebut menyumbang surplus bagi neraca perdagangan nonmigas Indonesia sebesar 1,62 miliar dolar AS.

Masih dari sisi nonmigas, sebesar 97,77 persen ekspor Indonesia ke EFTA diserap oleh Swiss. Di sisi lain, impor Indonesia dari EFTA datang dari Swiss sebesar 81,33 persen.

Baca juga: Isu sawit jadi fokus pemungutan suara tentang perdagangan Swiss-RI
Baca juga: Erick: Produsen kereta api Swiss bangun kantor regional di Indonesia
Baca juga: Indonesia-Swiss bermitra tanggulangi bencana


Pewarta: Sella Panduarsa Gareta
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar